Guru Subulussalam Integrasikan Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta

  • by Juprianto
  • Editor Munzir Permana
  • 17 Jan 2026
  • Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam : Guru Bahasa Indonesia jenjang Madrasah Aliyah (MA) se-Kota Subulussalam mulai menerapkan pendekatan baru dalam ruang kelas melalui integrasi konsep Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Langkah inovatif ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan mendalam terhadap lingkungan hidup, Sabtu (17/1/2026).

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ini dilaksanakan melalui workshop intensif selama lima hari lada pekan lalu yang diikuti sebanyak 30 guru berkumpul di Aula MAN 1 Inovasi Subulussalam untuk merombak paradigma pengajaran bahasa menjadi lebih humanis dan berkelanjutan.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA Kota Subulussalam, Dr. Candra Sihotang, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan rutin. Ia menekankan bahwa penguatan pedagogik guru harus selaras dengan upaya menyemai kepedulian lingkungan yang didasari nilai spiritualitas dan kemanusiaan.

"Workshop ini adalah cara kami meningkatkan kepedulian lingkungan melalui bahasa. Dengan Kurikulum Berbasis Cinta, guru menanamkan kasih terhadap Tuhan, sesama, hingga bangsa dan negara ke dalam materi ajar," ujar Candra.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Direktorat GTK Madrasah Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Pendanaan bersumber dari bantuan pemberdayaan Kelompok Kerja (Pokja) Tahun 2025, yang difokuskan pada peningkatan kualitas pengajaran di tingkat madrasah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Subulussalam, H. Munawar, S.E., M.Si., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Ia menilai materi yang diangkat sangat relevan dengan tantangan global saat ini, terutama terkait krisis ekologi dan degradasi karakter.

"Kami berharap workshop dengan substansi sekuat ini dilakukan secara berkala. Dampaknya terasa langsung pada kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter siswa di madrasah," kata Munawar.

Narasumber yang dihadirkan merupakan pakar dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Aceh, yakni Dr. Razali Yunus, M.Pd., dan Dr. Efriati, M.A. Keduanya merupakan Widyaiswara Ahli Madya yang secara khusus mendampingi guru dalam membedah konsep ekoteologi dalam teks sastra.

Pola pelatihan menggunakan sistem In-On-In yang mengombinasikan teori dan praktik lapangan. Pada tahap awal, peserta merancang draf unit modul KBC berbasis ekoteologi, dengan fokus utama pada integrasi nilai dalam materi Teks Novel.

Memasuki hari ketiga, pelatihan bergeser dari teori ke On the Job Learning. Para guru mempraktikkan langsung modul yang telah disusun di dalam kelas nyata untuk melihat efektivitas pendekatan ekoteologis tersebut terhadap respon siswa.

Suasana dinamis terlihat saat tim observasi memantau jalannya praktik mengajar. Guru diberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi nilai-nilai empati dalam pembelajaran teks novel, yang kemudian dievaluasi bersama dalam forum diskusi dan refleksi.

"Forum diskusi menjadi momen krusial untuk membedah tantangan di lapangan. Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai humanis ini benar-benar tersampaikan dan dipahami oleh siswa," tambah Dr. Candra Sihotang.

Pada hari keempat dan kelima, intensitas workshop meningkat melalui metode Lesson Study. Guru kembali merancang modul dengan unit pembelajaran berbeda, menciptakan siklus belajar yang berkelanjutan untuk meningkatkan standar profesionalisme mereka.

Melalui langkah ini, MGMP Bahasa Indonesia MA Kota Subulussalam mempertegas perannya sebagai motor penggerak pendidikan. Guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar teks, melainkan agen perubahan yang menanamkan kesadaran ekologi dan cinta demi masa depan bangsa.

Rekomendasi Berita