Tantangan Budaya Serba Instan dan Korupsi

KBRN, Atambua: Generasi muda sering disebut sebagai agen perubahan dan penentu masa depan bangsa. Namun di sisi lain, tidak sedikit kasus korupsi yang justru melibatkan kaum muda, Hal ini menjadi perhatian serius bagi praktisi pendidikan Godelfridus Z. Ngampu,S.Pd.,MM.

“Masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda, tetapi faktanya beberapa kasus korupsi melibatkan anak muda,” ujarnya kepada rri.co.id, Selasa (13/1/2026). Menurut Praktisi pendidikan yang karib disapa Fritz ini, salah satu penyebabnya adalah menguatnya pola pikir instan di kalangan generasi muda.

Ia menyebut fenomena ini sebagai “Budaya Formalin”. “Anak-anak muda ingin mendapatkan sesuatu dengan cara cepat, sukses cepat, kaya cepat, dan semuanya ingin serba cepat,” ucapnya. Pola pikir semacam ini membuka ruang bagi perilaku menyimpang, termasuk korupsi.

Padahal, Fritz menilai pemahaman generasi muda tentang integritas sebenarnya cukup baik. Namun, lingkungan yang permisif dan toleran terhadap penyimpangan membuat nilai-nilai tersebut melemah, terlebih ketika mereka telah masuk dalam sistem yang tidak sehat.

Karena itu, pendidikan anti korupsi harus dimulai sejak dini. “Inisiasi ini harus dimulai di tingkat sekolah dasar untuk memastikan pemahaman mendalam tentang bahaya korupsi dan dampaknya terhadap kemajuan suatu negara,” tuturnya.

Dalam konteks ini, konsep growth mindset menjadi sangat relevan. Growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui kerja keras, dedikasi, dan proses yang jujur.

“Jujur adalah salah satu kata kunci yang sangat penting dalam penyembuhan penyakit yang bernama korupsi,” kata Fritz tegas. Dengan growth mindset, generasi muda diajak untuk menghargai proses, bukan jalan pintas.

Ia menambahkan, pendidikan anti korupsi bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kesadaran moral, dan keberanian untuk menolak perilaku menyimpang dalam kehidupan nyata.

Rekomendasi Berita