Penyakit Menular Akibat Banjir Perlu Diwaspadai

RRI.CO.ID, Atambua - Musim penghujan sering membawa tantangan ganda, selain risiko kesehatan, juga risiko bencana alam akibat perubahan suhu dan kelembapan. Dokter umum, dr. Yovita Alviana, S.Ked menekankan pentingnya selalu memantau risiko kesehatan yang terjadi akibat banjir.

"Banjir di negara-negara Afrika dan Asia dalam beberapa dekade terakhir membawa wabah penyakit menular," ujar dr. Yovita kepada RRI, Jumat, 16 Januari 2026. "Penyakit itu mulai dari infeksi diare, leptospirosis atau kolera."

Menurut dr. Yovita anak-anak menjadi yang paling terdampak dari perubahan iklim ini. Dalam jurnal “A Global Analysis using Demographic and Health Survey Data (2022)” tercatat hal tersebut.

Bahwa kejadian penyakit yang ditularkan melalui air merupakan salah satu dampak utama yang mengancam kesehatan akibat perubahan iklim. Yovita menyebut beberapa gejala penyakit demam berdarah (DBD) yang sering terjadi dan harus diwaspadai oleh para orang tua.

Gejala yang umum seperti akan tampak rewel, demam tinggi mendadak, nyeri seluruh tubuh, serta nafsu makan berkurang. “Seperti dilaporkan Lancet Countdown, adanya peningkatan kesesuaian iklim untuk penularan jenis penyakit menular tertentu, terutama demam berdarah (DBD),” kata dr. Yovita.

Dijelaskan juga, hujan deras secara tiba-tiba menyebabkan luapan air limbah dan penyakit menular meningkat. Biasanya kondisi air, sanitasi dan kebersihan yang buruk menjadi wadah berkembangnya wabah penyakit menular.

Dokter Yovita mencontohkan, gastroenteritis ringan dan kolera, disentri, serta hepatitis menular yang mengancam jiwa. Hal ini berdasarkan teori Liang & Gong (2017).

Infeksi ini paling sering menyebabkan gejala diare ringan hingga berat yang mengakibatkan dehidrasi serius. “Teori (Lau et al. 2010) menyebutkan penyakit seperti leptospirosis ditularkan ke manusia melalui kontak dengan urin hewan terinfeksi,” ujar dr. Yovita, menerangkan.

Rekomendasi Berita