Baskara Buka Suara Soal Hindia dan Dampak Popularitas
- by Sumardi Hussein
- Editor Fillia Tuah Putrie
- 17 Jan 2026
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung – Dalam episode terbaru Malaka Cinematic, Baskara Putra berbagi cerita mendalam seputar perjalanan musiknya melalui berbagai proyek, mulai dari .Feast, Hindia, hingga Lomba Sihir. Podcast berdurasi 1 jam 47 menit yang dirilis pada 9 Januari 2026 ini turut menampilkan host Ferry Irwandi, Cania Citta, dan Coki Pardede.
Baskara menjelaskan perbedaan mendasar antar proyeknya. "
.Feast fokus pada observasi sosial-politik, sedangkan Hindia sangat personal, menghubungkan isu sosial dengan pengalaman hidup saya sendiri," ujarnya. Sementara itu, Lomba Sihir lahir secara organik saat personel live Hindia tinggal bersama selama pandemi untuk membuat album.Pemilihan nama "Hindia" ternyata dilatari alasan pragmatis dan filosofis. Selain lebih mudah untuk merchandise, nama itu terinspirasi dari upaya re-appropriasi istilah kolonial. "
Saya ingin jika orang mencari 'Hindia' di Google, yang muncul pertama adalah penyanyi Indonesia untuk orang Indonesia," jelas Baskara.Bagi musisi tersebut, berkarya adalah bentuk terapi. Ia menyalurkan sisi depressing melalui Hindia dan kemarahan sosial melalui .Feast agar bisa tetap normal dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik kesuksesan, Baskara mengaku risih dengan dampak ketenaran. Gelar "nabi Gen Z" dan kultus individu dari fans, terutama yang underage, membuatnya tidak nyaman. "
Fame itu lebih banyak tidak enaknya dibanding enaknya," tuturnya. Ia menyadari bahwa ekspektasi tinggi publik menyusutkan kebebasannya sebagai manusia biasa, bahkan dalam hal-hal sepele.