Suara Adalah Nyawa di Balik Ketegangan Film
- by Mardiana Sari
- Editor Fillia Tuah Putrie
- 18 Jan 2026
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Dalam industri perfilman, visual sering kali diagung-agungkan sebagai magnet utama untuk menarik minat penonton. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh praktisi audio film, Agung Aditya Pratama. Ia menegaskan bahwa kekuatan emosional sebuah film, khususnya dalam membangun ketegangan (
tension), justru terletak pada aspek tata suara.“Gambar memang jadi elemen hiburan, tapi
tension itu datangnya dari suara,” ujar Agung.Menurut Agung, mata manusia mungkin menangkap kejadian di layar, namun telingalah yang mengirimkan sinyal emosi ke otak. Ia memberikan ilustrasi sederhana melalui adegan kecelakaan mobil. Secara visual, sebuah tabrakan mungkin terlihat biasa atau datar. Namun, ketika elemen desain suara masuk seperti decit ban yang tajam, dentuman logam yang berat, hingga pecahnya kaca yang mendetail adegan tersebut berubah menjadi momen yang dramatis dan mencekam.
Konsep inilah yang disebut sebagai Theater of Mind. Melalui audio, penonton diajak untuk mengeksplorasi imajinasi mereka sendiri. Suara mampu membisikkan kengerian atau kesedihan yang bahkan tidak ditampilkan secara eksplisit oleh kamera.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan bahwa pengolahan suara yang tepat memiliki fungsi strategis:
Menggerakkan Emosi
: Mengatur detak jantung penonton melalui frekuensi rendah atau sunyi yang tiba-tiba.Ruang Imajinasi
: Membiarkan penonton membayangkan apa yang terjadi di luar bingkai (frame) kamera.Efek Dramatis
: Memberikan bobot pada setiap pergerakan fisik yang ada di layar.
Dengan pendekatan ini, suara tidak lagi sekadar pendamping gambar, melainkan instrumen utama yang memastikan emosi dan imajinasi penonton tergerak secara maksimal. Bagi para pembuat film, pesan Agung sangat jelas: jangan remehkan apa yang didengar penonton, karena di sanalah letak "nyawa" dari sebuah cerita.