Manusia Hujan, Relasi Alam dan Kemanusiaan

RRI.CO.ID, Banjarmasin -

Manusia Hujan merupakan karya yang lahir dari pengalaman panjang kebencanaan dan kemanusiaan. “Buku ini bercerita tentang para relawan, tentang manusia biasa yang bekerja di tengah bencana seperti Tsunami Aceh dan karhutla.

Saya tidak mengeksplorasi korban, tetapi proses kemanusiaan para relawan yang tetap bergerak dengan keterbatasan,” kata Sri Naida, dalam siaran Ruang Sastra, Pro 4 RRI Banjarmasin, Kamis, 15 Januari 2026.

Menurut Naida, hujan dalam buku tersebut dimaknai ganda, sebagai berkah sekaligus potensi bencana. Menurutnya, ketika hujan melewati batas alamiah, maka kesadaran manusia dituntut lebih bijak menjaga lingkungan dan memahami relasi antara alam dan kemanusiaan.

Perbincangan sastra yang reflektif dan sarat makna ini mengangkat topik

“Manusia Hujan”. Manuasia Hujan diambil dari buku terbitan terbaru Sri Naida, yang akrab disapa Bunda Naida.

Hujan tidak sekadar fenomena alam, tetapi juga sebagai simbol kemanusiaan, ingatan, dan pengalaman kolektif masyarakat. Sementara itu, Hj. Elly Rahmi menilai, hujan memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan manusia, terutama dalam budaya Banjar.

Hujan sering kali menjadi pemantik kenangan, refleksi, dan nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita, pantun, dan tradisi lisan. Tidak ada yang benar-benar negatif dari hujan, selama tidak berlebihan.

"Yang penting adalah bagaimana manusia menyikapinya dengan kesadaran budaya dan tanggung jawab terhadap alam,” ujar Bunda Elly dalam perbincangan tersebut," ujar Bunda Elly.

Pandangan lain disampaikan Elly Rahmah atau Mba Elly, yang menyoroti hujan sebagai simbol pemerataan dan keseimbangan alam. Menurutnya, hujan memberi pesan tentang keterhubungan manusia dengan lingkungan dan pentingnya menjaga harmoni agar bencana tidak lahir dari kelalaian manusia sendiri.

Ia menilai bahwa karya

Manusia Hujan menghadirkan bahasa sastra yang puitis namun membumi. Sehingga ini mudah diterima oleh berbagai kalangan.

"Sastra menjadi medium efektif untuk menyampaikan pesan ekologis dan kemanusiaan tanpa harus bersifat menggurui," ucap Elly Rahmah.


Rekomendasi Berita