Cara Berkomunikasi dengan Anak yang Mulai Beranjak Remaja

RRI.CO.ID - Masa remaja sering disebut sebagai fase paling menantang dalam hubungan orang tua dan anak. Anak yang dulu terbuka dan penurut, perlahan menjadi lebih pendiam, mudah tersinggung, bahkan terkesan menjauh.

Psikolog Klinis, Vanika Oktia, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @Vanika_Oktia, menyampaikan pesan menyentuh mengenai pentingnya proses dalam kesehatan mental. Ia menuliskan:

"Hai, aku Vanika Oktia, Psikolog Klinis yang percaya kalau hidup itu bukan lomba lari cepat. Kadang, kita butuh jeda. Butuh napas. Butuh bilang ke diri sendiri: 'Pelan-pelan saja' dan itu tidak apa-apa. Tidak ada tenggat waktu untuk bahagia, tidak ada stopwatch untuk pulih. Setiap langkah kecilmu tetap berarti. Di sini kita berjalan bersama-sama menuju hidup lebih sehat, lebih utuh secara jiwa dan raga. Pelan-pelan tapi pasti."

Menurutnya, perubahan perilaku pada remaja adalah hal yang normal dan merupakan bagian dari perkembangan, bukan tanda anak menjadi "nakal" atau tidak menghormati orang tua. Di fase krusial inilah, cara komunikasi orang tua sangat menentukan pembentukan kepribadian dan kesehatan mental anak di masa depan.

Berikut adalah beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan orang tua:

1. Pahami Bahwa Remaja Sedang Mencari Jati Diri

Psikolog menjelaskan bahwa remaja berada pada fase pencarian identitas. Otak bagian emosi berkembang lebih cepat dibandingkan bagian pengendalian diri. Akibatnya, anak cenderung lebih sensitif dan emosional.

Orang tua perlu memahami bahwa sikap membantah atau berbeda pendapat bukan berarti melawan, melainkan usaha anak untuk didengar dan diakui.

2. Dengarkan Lebih Banyak, Kurangi Menggurui

Kesalahan umum orang tua adalah langsung memberikan nasihat saat anak bercerita. Remaja sebenarnya lebih membutuhkan ruang untuk didengarkan daripada diceramahi. Cobalah untuk menatap mata anak, biarkan mereka menyelesaikan ceritanya, dan tahan keinginan untuk langsung menghakimi. Kalimat sederhana seperti, "Ayah dan Ibu paham perasaanmu," dapat menciptakan rasa aman secara emosional.

3. Gunakan Bahasa yang Menghargai, Bukan Menghakimi

Nada bicara dan pilihan kata sangat berpengaruh terhadap respons anak. Psikolog menyarankan untuk menghindari kata-kata seperti "kamu selalu", "kamu memang tidak pernah" atau “Makanya jangan begitu!”. Sebaliknya, gunakan kalimat yang menunjukkan kekhawatiran yang tulus dan lebih empatik, misalnya, "Ayah/Ibu khawatir kalau kamu..." atau “Menurut kamu, apa solusi terbaiknya?”

Pendekatan ini membuat anak mau berdiskusi, bukan defensif.

4. Beri Ruang, Tapi Tetap Hadir

Remaja membutuhkan ruang pribadi, namun bukan berarti ditinggalkan. Psikolog menekankan pentingnya kehadiran emosional orang tua, meski tanpa banyak bicara.

Contoh sederhana:

Menemani tanpa memaksa berbincang

Menanyakan kabar dengan santai

Menghargai privasi anak

Anak akan datang sendiri saat ia merasa siap dan percaya.

5. Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi

Menurut psikolog, anak belajar lebih banyak dari sikap orang tua dibandingkan nasihat. Jika orang tua mudah marah, membentak, atau menyalahkan, anak akan meniru pola komunikasi tersebut.

Sebaliknya, orang tua yang tenang, mau meminta maaf, dan terbuka berdiskusi akan membentuk anak yang sehat secara emosional.

6. Bangun Komunikasi Dua Arah Sejak Dini

Komunikasi dengan remaja bukan soal siapa yang paling benar, tetapi tentang kerja sama. Libatkan anak dalam pengambilan keputusan, terutama yang menyangkut dirinya.

Psikolog menyebutkan bahwa remaja yang dilibatkan akan merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab terhadap pilihannya.

7. Jangan Takut Minta Bantuan Profesional

Jika komunikasi terasa semakin buntu atau muncul perubahan perilaku ekstrem, psikolog menyarankan orang tua tidak ragu berkonsultasi. Konseling bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian.

Berkomunikasi dengan anak yang beranjak remaja memang tidak mudah. Namun menurut psikolog, kunci utamanya adalah empati, kesabaran, dan kehadiran emosional. Dengan komunikasi yang sehat, orang tua bukan hanya menjadi pengarah, tetapi juga tempat paling aman bagi anak untuk pulang secara emosional.

Rekomendasi Berita