Cara Menjaga Ego dalam Sebuah Hubungan Tetap Sehat
- by Rizka Medio Octoria
- Editor LN. Antonia Sinaga
- 19 Jan 2026
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Dalam sebuah hubungan—baik pasangan, pernikahan, maupun relasi keluarga—ego sering kali menjadi sumber konflik yang tidak disadari. Banyak hubungan retak bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena masing-masing pihak terlalu sibuk mempertahankan ego. Padahal, hubungan yang sehat justru dibangun dari kemampuan mengelola ego, bukan meniadakannya.
Apa Itu Ego dalam Hubungan?
Menurut Sigmund Freud menjelaskan ego sebagai bagian kepribadian yang berfungsi menengahi keinginan diri dengan realitas. Dalam hubungan, ego sering muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu benar, ingin menang sendiri, atau sulit mengakui kesalahan.
Menurut Dr. John Gottman, pakar hubungan dan pernikahan dari The Gottman Institute, ego yang tidak terkelola akan memicu sikap defensif, merendahkan pasangan, dan komunikasi yang tidak sehat—tiga hal yang menjadi prediktor kuat rusaknya hubungan jangka panjang.
Cara Menjaga Ego dalam Hubungan Menurut Ahli
1. Belajar Mengalah Tanpa Merasa Kalah
Mengalah bukan berarti lemah. Psikolog Dr. Harriet Lerner menegaskan bahwa mengalah secara sadar justru menunjukkan kedewasaan emosional. Dalam hubungan, tujuan utama bukanlah menang dalam perdebatan, melainkan menjaga koneksi emosional.
“Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang benar, tetapi bagaimana tetap terhubung meski berbeda pendapat,” — Dr. Harriet Lerner.
2. Kendalikan Reaksi Emosional, Bukan Perasaan
Perasaan marah atau kecewa adalah hal wajar, namun cara mengekspresikannya menentukan kualitas hubungan. Daniel Goleman, pencetus konsep kecerdasan emosional, menyatakan bahwa kemampuan mengelola reaksi impulsif adalah kunci hubungan yang stabil.
Sebelum bereaksi, beri jeda sejenak. Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah saya ingin didengar, atau hanya ingin menang?
3. Latih Kemampuan Mendengar dengan Empati
Sering kali ego membuat seseorang mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami. Psikolog humanistik Carl Rogers menekankan pentingnya empathetic listening—mendengar dengan niat memahami sudut pandang pasangan tanpa menghakimi.
Mendengar dengan empati membuat pasangan merasa dihargai, yang secara alami menurunkan pertahanan ego.
4. Akui Kesalahan Tanpa Membela Diri
Mengakui kesalahan adalah salah satu cara paling efektif meredam konflik. Menurut Dr. Brené Brown, kerentanan (vulnerability) seperti mengakui salah justru memperkuat kepercayaan dan kedekatan emosional.
“Kerentanan bukan kelemahan, tetapi keberanian untuk jujur dan bertanggung jawab,” — Brené Brown.
5. Pisahkan Harga Diri dari Perbedaan Pendapat
Tidak semua kritik adalah serangan pribadi. Psikolog Esther Perel menjelaskan bahwa banyak konflik membesar karena seseorang merasa harga dirinya terancam, padahal yang dibahas hanyalah perilaku, bukan nilai diri.
Dengan memahami hal ini, ego tidak mudah tersinggung dan diskusi bisa berjalan lebih sehat.
6. Fokus pada Solusi, Bukan Pembuktian
Hubungan akan lebih harmonis jika kedua pihak fokus pada solusi bersama, bukan saling membuktikan siapa yang paling benar. Dr. John Gottman menyebut pendekatan ini sebagai repair attempts, yaitu usaha sadar untuk meredakan ketegangan demi kebaikan hubungan.
Menjaga ego dalam hubungan bukan berarti menekan diri atau selalu mengalah, melainkan belajar menempatkan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi. Ego yang sehat justru membantu seseorang memiliki batasan yang jelas, berkomunikasi dengan jujur, dan tetap menghargai pasangan.
Seperti yang disampaikan banyak ahli, hubungan yang bertahan lama bukan dibangun oleh kesempurnaan, melainkan oleh dua individu yang mau belajar merendahkan ego demi mempertahankan rasa saling memiliki.