RRI.CO.ID, Bengkulu - Tidur siang sering dianggap sebagai kebiasaan yang tidak penting, bahkan kerap dikaitkan dengan rasa malas. Padahal, dari sudut pandang ilmu saraf, tidur siang justru bisa memberi manfaat nyata bagi otak, terutama jika dilakukan dengan durasi dan waktu yang tepat.
Saat kita terjaga terlalu lama, otak bekerja terus-menerus memproses informasi, emosi, dan keputusan kecil. Tidur siang memberi jeda singkat bagi otak untuk beristirahat. Dalam kondisi ini, aktivitas saraf melambat sehingga otak punya kesempatan untuk merapikan kembali informasi yang baru diterima dan memulihkan fokus yang mulai menurun.
Penelitian tentang tidur menunjukkan bahwa tidur siang singkat dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat. Setelah tidur sejenak, banyak orang merasa pikirannya lebih jernih dan lebih siap melanjutkan aktivitas. Hal ini berkaitan dengan cara otak mengatur ulang koneksi antarsel saraf agar bekerja lebih efisien.
Tidur siang juga berhubungan dengan suasana hati. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah dan emosional. Dengan tidur singkat di siang hari, otak mendapat kesempatan menurunkan tingkat stres dan menyeimbangkan kembali sistem yang mengatur emosi. Inilah sebabnya tidur siang sering membuat perasaan menjadi lebih stabil setelah bangun.
Namun, durasi tidur siang perlu diperhatikan. Tidur terlalu lama justru bisa membuat tubuh terasa berat dan sulit fokus. Banyak ahli menyarankan tidur siang sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit agar tetap berada di fase tidur ringan. Dengan durasi ini, tubuh mendapat manfaat tanpa rasa pusing atau mengantuk berlebihan setelah bangun.
Pada akhirnya, tidur siang bukan sekadar kebiasaan santai. Jika dilakukan dengan bijak, tidur siang bisa menjadi cara sederhana untuk membantu otak bekerja lebih baik, menjaga fokus, dan mendukung kesehatan mental dalam aktivitas sehari-hari.