Ketika Hobi Mulai dipuji, Ekspektasipun Tumbuh
- by Daniel Istia.Penyiar
- Editor Dg. Siraja
- 17 Jan 2026
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Hobi adalah ruang bebas, tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan hasil. Namun perlahan, banyak hobi kehilangan sifat ringannya dan berubah menjadi beban yang tidak disadari. Perubahan itu sering terjadi tanpa terasa.
Ketika hobi mulai dipuji, dibagikan, dan mendapat perhatian, ekspektasipun tumbuh. Lingkungan bertanya kapan hobi itu "menghasilkan". Media sosial menampilkan orang-orang yang berhasil mengubah kesenangan menjadi sumber penghasilan. Dari sana muncul dorongan halus bahwa hobi seharusnya tidak hanya menyenangkan, tetapi juga produktif. Tanpa disadari, ruang bermain berubah menjadi ruang tuntutan.
Saat hobi mulai diukur dengan angka, jumlah penonton, pengikut, atau pendapatan maka maknanya pun bergeser. Aktivitas yang dulu dilakukan dengan rasa ingin tahu kini dibayangi target dan perbandingan. Kesalahan kecil terasa lebih berat, karena bukan lagi sekadar bagian dari proses, tetapi dianggap merugikan. Hobi yang seharusnya memberi energi justru menguras tenaga dan emosi.
Tekanan untuk konsisten juga ikut menyusup. Ada jadwal yang harus dipenuhi, konten yang harus dibuat, dan ekspektasi yang harus dijaga. Ketika lelah atau kehilangan semangat, rasa bersalah muncul. Istirahat tidak lagi terasa wajar, karena ada ketakutan akan kehilangan momentum. Dalam kondisi ini, hobi tidak lagi menjadi tempat pulang, melainkan daftar tugas tambahan di tengah kesibukan hidup.
Fenomena ini tidak lepas dari budaya yang memuja produktivitas. Segala sesuatu diharapkan memiliki nilai guna dan nilai jual. Waktu luang dipertanyakan, kesenangan dianggap boros jika tidak menghasilkan apa-apa. Dalam budaya seperti ini, menikmati sesuatu demi rasa suka semata terasa hampir subversif. Padahal, tidak semua hal harus bernilai ekonomi untuk menjadi berharga.
Pada akhirnya, hobi yang sehat bukan tentang seberapa jauh ia berkembang, tetapi tentang bagaimana ia membuat kita merasa. Jika sebuah hobi tak lagi memberi kegembiraan, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan kesukaannya, melainkan tuntutan yang kita lekatkan padanya. Karena di dunia yang terus menuntut hasil, mempertahankan kesenangan yang sederhana bisa menjadi bentuk perlawanan yang paling jujur.