Viral Obat GLP-1, Pakar Ingatkan Risiko Kesehatan
- by Aldilla Safitri.Penyiar
- Editor Yudi Prama Agustino
- 19 Jan 2026
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Obat diet GLP-1 makin viral karena membantu turunkan berat badan secara signifikan. Obat ini bekerja memperlambat lapar dan meningkatkan rasa kenyang di otak, sehingga porsi makan otomatis berkurang.
Namun selain efek positif, penggunaan juga disertai kejadian mual dan diare sebagai reaksi saluran cerna, terutama pada dosis awal. Bukti ilmiah menunjukkan semaglutide dan tirzepatide mampu menurunkan berat badan hingga dua digit persentase dalam uji klinis besar, dibandingkan dengan placebo pada pasien obesitas.
GLP-1 awalnya dikembangkan sebagai terapi diabetes tipe 2 yang aman dan efektif, sebelum dikenal luas untuk menurunkan berat badan. Studi sistematis menemukan GLP-1 receptor agonists konsisten mengurangi lemak tubuh dan indeks massa tubuh orang dewasa tanpa diabetes. Namun, efek samping saluran cerna lebih sering terjadi dibandingkan dengan plasebo.
Penggunaan obat ini memicu debat dalam masyarakat karena sejumlah pengguna melaporkan penurunan berat badan dramatis dalam waktu singkat. Tapi pakar kesehatan mengingatkan bahwa pengobatan tanpa perubahan gaya hidup sering menyebabkan
efek “rebound”, yakni kenaikan berat badan setelah berhenti obat.Kementerian Kesehatan RI kini mengkaji potensi memasukkan GLP-1 dalam
skema terapi obesitas nasional, termasuk kemungkinan ditanggung BPJS. Kajian ini didasarkan pada pedoman terbaru WHO untuk terapi obesitas.Meski populer, biaya tinggi jadi kendala utama, terutama bagi pasien tanpa asuransi. Hal ini mendorong munculnya versi obat yang dibuat ulang (compounded) dengan harga lebih murah di pasar tidak resmi di luar negeri.
Ahli menyarankan penggunaan GLP-1 harus diawasi dokter dan dipadukan dengan pola makan sehat serta aktivitas fisik teratur. Penanganan obesitas dianggap lebih sukses bila melibatkan perubahan gaya hidup jangka panjang.
Pakar juga menekankan bahwa GLP-1 bukan “pil ajaib”, sebab efek besar biasanya terlihat pada dosis yang tepat dan pemantauan klinis yang cermat. Dampaknya terhadap risiko jangka panjang masih terus diteliti. (AS/YPA)