Kolaborasi Daerah Dinilai Kunci Atasi Banjir Cirebon
- by Andini Rahmawati
- Editor Dhani Sumpena
- 15 Jan 2026
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan – Anggota Komisi 2 DPRD Kota Cirebon, Anton Octavianto, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam menangani persoalan banjir kiriman yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kota Cirebon. Menurutnya, penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Anton menyampaikan bahwa upaya penanganan banjir di beberapa titik vital Kota Cirebon saat ini sudah menunjukkan perkembangan positif, salah satunya di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo. Ia menyebut durasi genangan air kini jauh lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berkat sinergi berbagai pihak.
“Alhamdulillah emang akhir-akhir ini di Kota Cirebon banjir ya, tapi banjirnya nggak kayak tahun-tahun sebelumnya. Sekarang karena penanganan dari Pemkot dan instansi terkait bersama BBWS dan DPRD, kita kerja sama. Makanya genangan di Cipto itu biasanya nggak lama, paling hitungan 10–15 menit sudah surut,” ujar Anton kepada RRI Cirebon, pada Kamis, 15 Januari 2025.
Meski demikian, Legislator PAN ini mengungkapkan persoalan utama yang masih dihadapi Kota Cirebon adalah banjir kiriman dari wilayah hulu, terutama dari Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Kondisi tersebut kerap menyebabkan banjir meskipun intensitas hujan di wilayah kota relatif rendah.
“Karena di Cirebon pun sudah banyak mengalami pendangkalan, banyak lumpur-lumpur yang mungkin dari Kuningan masuk ke Kabupaten, lalu ke Kota Cirebon. Jadi itu membawa sedimentasinya lumayan banyak,” jelasnya.
Ia menilai, tingginya sedimentasi di aliran sungai menjadi salah satu penyebab utama meluapnya air ke permukiman warga. Oleh karena itu, Anton mendorong adanya pertemuan intensif antara Wali Kota Cirebon, Bupati Kuningan, Bupati Cirebon, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta kementerian terkait guna merumuskan langkah penanganan bersama.
Menurut Anton, normalisasi sungai harus dilakukan secara berkesinambungan mulai dari wilayah hulu hingga hilir, disertai dengan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai serta penertiban bangunan di bantaran sungai.
Ia menyebutkan, penertiban kawasan bantaran sungai saat ini mulai dilakukan di sejumlah wilayah seperti Sukalila, Kalibaru, dan Krian. Sementara itu, wilayah yang masih kerap terdampak luapan sungai antara lain Kelurahan Argasunya, Kalijaga, dan Kecapi.
“Kalau di kawasan hulu, hujan dari jam 1 atau jam 2 siang, biasanya di sini jam 4 atau jam 5 sore sudah banjir, meskipun di sini hanya rintik-rintik,” katanya.
Menutup keterangannya, Anton berharap koordinasi lintas sektoral antar daerah dapat segera terealisasi agar penanganan banjir dapat dilakukan secara permanen dan berkelanjutan.
“Ini masalah bersama, bukan hanya masalah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, atau Kabupaten Kuningan saja. Semua harus bahu-membahu,” pungkasnya.