Sejarah Kentang, dari Andes hingga Menjadi Pangan Dunia

RRI.CO.ID, Denpasar

- Kentang kini menjadi salah satu bahan pangan pokok yang paling digemari masyarakat dunia. Namun, tahukah Anda bahwa tanaman umbi-umbian ini memiliki sejarah panjang yang dimulai dari ribuan tahun silam di dataran tinggi Amerika Selatan?

Berdasarkan data arkeologi dari laporan

Lost Crops of the Incas : Little-Known Plants of the Andes with Promise for Worldwide Cultivation dalam laman Internet Archives, Tanaman kentang atau istilah ilmiahnya Solanum tuberosum L. adalah tanaman umbi-umbian semusim dari suku Solanaceaepenting sebagai sumber pangan dunia dengan umbi batang yang dapat dimakan, tumbuh optimal di dataran tinggi 800-2000 mdpl bersuhu 15-25°C. Kentang pertama kali dibudidayakan di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Peru selatan dan barat laut Bolivia. Proses domestikasi ini diperkirakan terjadi antara tahun 8.000 hingga 5.000 Sebelum Masehi (SM).

Meskipun diperkirakan sudah ada sejak 10.000 tahun lalu, bukti fisik kentang sulit ditemukan karena sifat umbi yang mudah busuk dalam tanah. Namun, para peneliti berhasil menemukan sisa-sisa umbi kentang tertua di situs pesisir Ancon, Peru tengah, yang berasal dari tahun 2500 SM.

Selain sisa fisik, pengaruh kentang juga ditemukan dalam bentuk karya seni keramik kuno masyarakat Peru. Hal ini menunjukkan bahwa kentang memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi bagi masyarakat kuno di wilayah Altiplano.

Masyarakat Inka bahkan mengembangkan teknologi pengawetan kentang yang disebut

chuño. Kentang ini bisa disimpan selama bertahun-tahun tanpa pembusukan. Biasanya teknik pengawetan chuno ini akan melalui proses dehidrasi melalui suhu dingin. Malam musim dingin di dataran tinggi biasanya berkisar antara -5 °C hingga -12 °C saat terjadi embun beku. Pada malam-malam bulan Juni dan Juli inilah suhu dingin dimanfaatkan untuk mendehidrasi kentang, sehingga menjadi bekal utama tentara Inka dan cadangan pangan saat musim paceklik.

Lalu bagaimana kentang tersebar ke belahan dunia lainnya? Menjadi perjalanan Bangsa Spanyol sebagai orang Eropa pertama yang menemukan kentang pada tahun 1537. Bangsa Spanyol saat melakukan ekspedisi di desa-desa Inka awalnya sempat ragu mengonsumsi kentang karena dianggap sebagai tanaman liar yang aneh.

Namun, memasuki abad ke-18 dan ke-19, pandangan tersebut berubah. Kentang mulai dianggap sebagai penyelamat pangan bagi kaum miskin karena harganya yang murah dan kandungan gizinya yang tinggi. Di Prancis, Raja Louis XVI dan Marie Antoinette bahkan mempopulerkan bunga kentang sebagai aksesori pakaian untuk mengubah citra tanaman ini.

Seiring berjalannya waktu, kentang menyebar ke seluruh benua, termasuk Asia dan Afrika. Di India, kentang diperkenalkan oleh pedagang Inggris pada akhir abad ke-18, sementara di Tiongkok, tanaman ini sempat menjadi hidangan mewah keluarga kekaisaran sebelum akhirnya menjadi tanaman rakyat.

Saat ini, kentang menempati urutan kelima sebagai tanaman pangan paling penting di dunia setelah gandum, jagung, padi, dan tebu. Fleksibilitasnya untuk diolah menjadi berbagai jenis hidangan menjadikan kentang sebagai bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan global.

Rekomendasi Berita