Tips Memotret Keindahan Sungai dan Pegunungan
- by Marselius Jeki
- Editor Oktavianus Rangga
- 20 Jan 2026
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Pemandangan sungai dengan latar belakang gunung seperti pada gambar adalah subjek klasik dalam fotografi lanskap. Untuk menghasilkan foto yang memukau, langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah pencahayaan. Waktu terbaik untuk memotret adalah saat Golden Hour yaitu sesaat setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, karena cahaya matahari yang miring akan memberikan tekstur pada permukaan gunung dan warna keemasan yang cantik pada hamparan pasir di pinggir sungai.
Dalam foto tersebut, terdapat area pasir yang luas di tengah sungai. Anda bisa memanfaatkan ini sebagai Leading Lines atau garis penuntun. Cobalah mengambil sudut pandang yang lebih rendah (low angle) agar garis pertemuan antara air dan pasir mengarahkan mata pemirsa langsung menuju puncak gunung. Teknik ini memberikan kesan kedalaman (dimensi) sehingga foto tidak terlihat datar atau dua dimensi saja.
Keberadaan air sungai memberikan peluang untuk bereksperimen dengan kecepatan rana (shutter speed). Jika Anda menggunakan tripod, cobalah menggunakan teknik long exposure. Dengan memperlambat kecepatan rana, aliran air sungai akan terlihat halus seperti kapas atau cermin yang tenang, menciptakan kontras yang dramatis dengan tekstur kasar pepohonan dan bebatuan gunung di latar belakang.
Selanjutnya, perhatikan aturan Rule of Thirds. Jangan selalu menempatkan gunung tepat di tengah bingkai. Cobalah meletakkan puncak gunung di salah satu titik simpang imajiner, dan biarkan cakrawala berada di garis sepertiga atas atau bawah. Pada gambar Anda, menempatkan lebih banyak porsi sungai di bagian bawah dapat memberikan kesan ketenangan yang lebih kuat bagi siapa pun yang melihatnya.
Jangan lupakan elemen foreground atau latar depan. Rumput atau tanaman liar di pinggir sungai, seperti yang terlihat di bagian bawah foto Anda, bisa menjadi bingkai alami yang sangat bagus. Pastikan bagian depan ini tetap tajam agar memberikan konteks lokasi yang kuat. Penggunaan bukaan lensa (aperture) kecil, misalnya di angka f/8 hingga f/11, sangat disarankan untuk menjaga seluruh area dari depan hingga belakang tetap fokus.
Warna hijau hutan dan biru langit adalah elemen utama dalam foto ini. Untuk membuat warna-warna tersebut lebih hidup tanpa terlihat berlebihan, Anda bisa menggunakan filter Circular Polarizer (CPL). Filter ini berfungsi mengurangi pantulan cahaya pada air dan daun, sekaligus membuat warna biru langit menjadi lebih pekat dan awan putih terlihat lebih kontras.
Jika Anda memotret di siang hari yang terik seperti pada gambar, tantangan terbesarnya adalah dynamic range yang tinggi perbedaan terang dan gelap yang sangat kontras. Untuk mengatasinya, Anda bisa menggunakan teknik HDR (High Dynamic Range) atau memotret dalam format RAW. Format RAW memungkinkan Anda memulihkan detail pada bagian bayangan pohon yang gelap maupun bagian awan yang terlalu terang saat proses editing.
Terakhir, aspek kebersihan lensa sering kali terlupakan saat berada di alam terbuka. Kelembapan di sekitar sungai atau debu dari area pasir dapat menempel pada lensa dan menyebabkan hasil foto tampak buram atau memiliki flare yang mengganggu. Selalu siapkan kain mikrofiber untuk memastikan lensa tetap bersih sebelum menekan tombol rana.
Dengan memadukan komposisi yang tepat, pemanfaatan cahaya alami, dan sedikit sentuhan teknis pada kamera, pemandangan sungai dan gunung yang indah ini bisa berubah menjadi karya seni digital yang bercerita. Konsistensi dalam berlatih akan membantu insting Anda menemukan sudut terbaik di setiap bentang alam yang Anda kunjungi.