Sugar Detox Jaga Energi dan Kulit
- by Yayan Djafar
- Editor Budi Akantu
- 21 Jan 2026
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Tren sugar detox atau pengurangan konsumsi gula tambahan semakin mendapat perhatian publik seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Gula tambahan yang banyak ditemukan pada minuman manis, makanan olahan, dan camilan modern diketahui berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga gangguan metabolik.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga pada kesehatan kulit dan kestabilan energi harian. Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa asupan gula tambahan yang tinggi dapat memicu lonjakan gula darah yang cepat, diikuti penurunan energi secara drastis, sehingga tubuh lebih mudah merasa lelah dan lesu.
Dari sisi dermatologis, gula berlebih berperan dalam proses glycation, yakni reaksi antara gula dan protein dalam tubuh yang dapat merusak kolagen serta elastin. Akibatnya, kulit menjadi lebih cepat kusam, kehilangan elastisitas, dan rentan terhadap penuaan dini. Hal ini juga dijelaskan dalam publikasi Journal of the American Academy of Dermatology yang mengaitkan pola makan tinggi gula dengan memburuknya kondisi kulit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri merekomendasikan pembatasan konsumsi gula tambahan hingga kurang dari 10 persen dari total asupan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal. Kebijakan ini bertujuan menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI juga secara aktif mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), termasuk edukasi untuk mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak. Data Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi diabetes terus meningkat, sehingga pengendalian asupan gula menjadi langkah preventif yang penting.
Penerapan sugar detox tidak selalu berarti menghilangkan gula sepenuhnya, melainkan lebih pada mengganti sumber gula tambahan dengan pilihan alami seperti buah segar, serta memperbanyak konsumsi makanan utuh yang kaya serat dan protein. Serat membantu memperlambat penyerapan gula, sehingga energi tubuh menjadi lebih stabil sepanjang hari.
Para ahli gizi menekankan bahwa manfaat pengurangan gula dapat dirasakan dalam waktu relatif singkat, seperti kualitas tidur yang membaik, energi yang lebih konsisten, serta kondisi kulit yang tampak lebih segar. Namun, perubahan ini perlu dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik.