Dengkuran Kucing dan Efek Penyembuhan
- by Yayan Djafar
- Editor Budi Akantu
- 20 Jan 2026
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Dengkur kucing selama ini identik dengan rasa nyaman dan kedekatan emosional antara hewan peliharaan dan pemiliknya. Namun, di balik suara lembut tersebut, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dengkuran kucing memiliki potensi manfaat kesehatan, terutama dalam membantu proses penyembuhan tulang dan luka.
Fakta ini menjadikan dengkuran kucing sebagai fenomena biologis yang menarik dan jarang dibahas secara mendalam.
Secara ilmiah, dengkuran kucing terjadi akibat getaran otot laring dan diafragma yang menghasilkan frekuensi suara stabil.
Penelitian menyebutkan frekuensi dengkuran kucing berada di kisaran 25–150 Hertz. Rentang frekuensi ini dikenal dalam dunia medis sebagai frekuensi terapeutik yang mampu merangsang regenerasi jaringan, mempercepat penyembuhan tulang, serta memperbaiki kekuatan sendi dan otot.
Sejumlah studi dalam bidang ortopedi menunjukkan bahwa getaran frekuensi rendah, khususnya antara 20–50 Hertz, dapat meningkatkan kepadatan tulang dan mempercepat proses pemulihan pasca cedera. Menariknya, frekuensi tersebut termasuk dalam rentang dengkuran kucing. Hal inilah yang menjadi dasar teori bahwa kucing secara alami memiliki “mekanisme penyembuhan diri” melalui dengkurannya.
Tak hanya bermanfaat bagi kucing itu sendiri, efek dengkuran juga berdampak positif bagi manusia. Interaksi dengan kucing yang sedang mendengkur diketahui dapat menurunkan tingkat stres, memperlambat detak jantung, dan menurunkan tekanan darah. Kondisi psikologis yang lebih rileks ini berperan penting dalam mendukung sistem imun dan mempercepat proses pemulihan luka.
Dalam dunia medis modern, prinsip serupa telah diterapkan melalui terapi getaran atau low-frequency vibration therapy.
Terapi ini digunakan untuk pasien dengan osteoporosis, cedera tulang, hingga gangguan otot. Kesamaan prinsip kerja ini semakin menguatkan dugaan bahwa dengkuran kucing memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa dengkuran kucing bukanlah pengganti pengobatan medis. Manfaatnya lebih bersifat pendukung atau komplementer. Artinya, dengkuran kucing dapat membantu mempercepat proses penyembuhan, tetapi tetap harus disertai penanganan medis yang tepat sesuai diagnosis dokter.
Fenomena ini juga membuka peluang penelitian lanjutan di bidang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Beberapa ilmuwan bahkan menilai bahwa studi tentang dengkuran kucing dapat menginspirasi pengembangan alat terapi getaran yang lebih alami, aman, dan terjangkau di masa depan.