Musik Angklung Sunda, dari Tradisi Lokal Menuju Dunia
- by Anisa Putri Haniyah
- Editor Mosita
- 15 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Angklung merupakan instrumen musik tradisional Sunda yang memiliki sejarah panjang dalam ritual agraris masyarakat Jawa Barat. Dalam perkembangannya, angklung awalnya digunakan pada upacara pemujaan Dewi Padi dan perayaan panen tradisional masyarakat Sunda.
Dilansir dari laman Kementerian Sekretariat Negara, sejarah penggunaan angklung tersebut, berkaitan erat dengan kepercayaan agraris Sunda. Seiring waktu, fungsi angklung berkembang menjadi sarana hiburan dan pertunjukan musik bagi masyarakat luas nasional internasional.
Perubahan besar terjadi ketika Daeng Sutigna mengembangkan angklung dari tangga nada pentatonis menjadi diatonis chromatik. Inovasi tersebut memungkinkan angklung memainkan berbagai jenis lagu dan diterima lebih luas masyarakat Indonesia hingga mancanegara.
Peran Udjo Ngalegena kemudian memperkuat popularitas angklung melalui pendirian Saung Udjo di Bandung sebagai pusat budaya. Saung Udjo menjadi ruang kreativitas, edukasi, serta pertunjukan angklung yang sering tampil tingkat internasional budaya Indonesia.
Perkembangan angklung tersebut dinilai sebagai bagian diplomasi budaya Indonesia memperkenalkan kesenian Sunda ke dunia internasional modern. Diplomasi budaya mencakup penyampaian nilai, filosofi, serta makna sosial yang melekat dalam angklung masyarakat Sunda Indonesia.
Angklung juga berperan membangun identitas dan citra Indonesia, sekaligus menarik minat kunjungan masyarakat luar negeri mancanegara. Upaya tersebut mendorong pengembangan angklung di berbagai negara tanpa menghilangkan karakter aslinya sebagai warisan budaya Indonesia.
Thailand menjadi contoh keberhasilan ketika angklung menarik perhatian Raja Rama V dan keluarga kerajaan Thailand pada masa itu. Ketertarikan tersebut berlanjut dengan dibawanya angklung ke Istana Bangkok setelah kunjungan raja ke Indonesia beberapa kali.
Angklung kemudian diajarkan di sekolah Thailand dan berkembang melalui pembuatan handmade oleh guru musik lokal setempat. Pelestarian angklung ini menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia yang diakui dunia dan telah diakui UNESCO secara berkelanjutan.