UNSIA Siap Berpartisipasi pada Program 'Transmigrasi Patriot 2026'
- by Heri Firmansyah
- Editor Pessy
- 18 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Universitas Siber Asia (UNSIA) berencana mengirim mahasiswanya pada program "Transmigrasi Patriot 2026". Program yang merupakan gerakan nasional di bawah Kementerian Transmigrasi ini mengintegrasikan Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot (S2) guna membentuk kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi berbasis riset aplikatif.
Rektor Universitas Siber Asia Prof Jang Youn Cho, Ph.D menyampaikan hal tersebut pada prosesi Wisuda Ke-4 Periode II Tahun Akademik 2024/2025 UNSIA, yang digelar di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026. Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi RI, Dr Edy Gunawan, SE, MM.
"Di tahun 2026 ini, ditargetkan sebanyak 1.000 penerima beasiswa magister dari seluruh Indonesia akan menempuh pendidikan selama 18 bulan. Termasuk, melakukan penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi seluruh Indonesia," ujarnya.
Melalui
platform siber, UNSIA telah berhasil menjangkau pelosok nusantara dari Aceh hingga Papua. Terutama, dalam mencetak SDM unggul yang siap membangun kawasannya tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran."Lulusan UNSIA memiliki keunggulan kompetitif berupa kemandirian dan literasi digital yang tajam untuk menjadi solusi bagi lingkungan sekitar," kata Ketua Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK), Dr Ramlan Siregar, M.Si, menjelaskan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan, SE, MA. Menurut dia, lulusan kampus siber harus memiliki 'DNA Digital' yang menjadi keunggulan kompetitif mutlak.
"Di tengah disrupsi AI, ijazah saja tidak cukup. Saudara harus menjadi praktisi solutif yang mengombinasikan keahlian informatika, komunikasi, atau manajemen untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat," ucapnya.
Prosesi Wisuda Ke-4 Periode II Tahun Akademik 2024/2025 UNSIA diikuti oleh 879 wisudawan secara
hybrid. Sebanyak 367 orang diwisuda secara onsite (langsung), sementara 495 lainnya terhubung secara daring dari berbagai belahan dunia, termasuk Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi. Hal ini membuktikan bahwa peran pendidikan jarak jauh adalah nyata, tanpa batas, dan tanpa jarak.Dalam kegiatan yang mengangkat tema strategis: "Sinergi Akademis dan Pembangunan Kawasan: Mencetak SDM Unggul & Cerdas Digital Menuju Indonesia Emas Tahun 2045", Rektor UNSIA Prof Jang Youn Cho, Ph.D menekankan bahwa lulusan UNSIA adalah pionir di era
Artificial General Intelligence (AGI)."Anda tidak perlu bersaing dengan silikon. Kembangkanlah apa yang bersifat biologis dan berjiwa," kata Rektor dalam orasi ilmiahnya.
Prof Cho juga mengumumkan pencapaian luar biasa UNSIA sebagai hub
World University Ranking for Innovation (WURI) di Indonesia, serta rencana menjadikan UNSIA sebagai Google Reference University pertama dan pionir penggunaan kecerdasan artifisial (AI) untuk pendidikan di tanah air. Untuk itu, ia meminta lulusan UNSIA tidak hanya sebagai 'pengguna' masa depan, sebaliknya menjadi 'inovator' masa depan."Di era AI ini, kecanggihan mesin justru membuat nilai kemanusiaan Anda semakin berharga. Gunakan efisiensi AI untuk memberi Anda lebih banyak waktu menjadi manusia yang lebih empati dan melayani bangsa dengan hati yang tidak dapat direplikasi oleh kode mana pun," ujar Prof Cho.