Pakar ITB Usul Water Cathedral Atasi Banjir Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Banjir Jakarta yang datang hampir tiap musim hujan kembali membuka persoalan klasik tata kelola air ibu kota. Pakar Institut Teknologi Bandung atau ITB menilai Jakarta membutuhkan solusi radikal berupa water cathedral seperti yang dibangun Tokyo, bukan sekadar pompa dan pengerukan sungai.

Banjir yang sempat merendam wilayah Jakarta Barat, Timur, Utara, dan Selatan pada Minggu malam kini telah surut sepenuhnya. Data Pantau Banjir DKI Jakarta mencatat tidak ada lagi wilayah Rukun Tetangga atau RT terdampak pada Senin, 19 Januari 2026, dari total 30.544 RT di seluruh Jakarta.


Petugas BPBD DKI Jakarta memantau kondisi banjir di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat, akibat hujan berintensitas tinggi, Minggu, 18 Januari 2026 ( Foto: BPBD DKI).


Baca juga:

Di RW 03 Tegal Alur, Cengkareng, Jakarta Barat, banjir masih menjadi tamu rutin. Ketua RW 03 Tegal Alur, Agus Ramlan, mengatakan seluruh RT di wilayahnya terdampak banjir Januari ini, kecuali rumah susun yang posisinya lebih tinggi. “Semua RT terdampak, tapi alhamdulillah cepat surut karena sekarang sudah ada pompa dan sodetan besar,” ujar Agus saat wawancara di Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.

Menurut Agus, perbedaan paling terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya adalah kecepatan surutnya air. Jika dahulu genangan bisa bertahan hingga berhari-hari, kini sebagian besar wilayah surut dalam sehari. “Kalau dulu bisa sampai seminggu, sekarang satu hari sudah surut, walaupun di RT dekat kali masih dua sampai tiga hari,” ucapnya.


Kondisi Tempat Pemakaman Umum Budi Darma, Semper, Jakarta Utara, yang hampir sebagian areanya terendam banjir akibat hujan deras pada Minggu, 18 Januari 2026 (Foto: RRI/Ilyas).



Namun, kecepatan surut itu bukan berarti masalah selesai. Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan banjir Jakarta tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal. “Di Jakarta itu banjirnya kombinasi, ada fluvial dari sungai meluap dan dari drainase yang tidak mampu menampung hujan,” ujar Heri.

Heri menjelaskan, banjir terjadi karena empat faktor utama: curah hujan, infiltrasi tanah, limpasan air, dan daya tampung. Alih fungsi lahan membuat infiltrasi menurun, sementara limpasan meningkat dan sungai serta waduk tak lagi cukup menampung air. “Kalau daya tampung tidak cukup, banjir pasti terjadi,” ucapnya.

Masalah bertambah pelik karena penurunan tanah Jakarta yang masih berlangsung. Data penelitian ITB menunjukkan laju penurunan tanah saat ini berkisar 1–10 sentimeter per tahun, terutama di wilayah pesisir barat seperti Kamal Muara dan Muara Angke. “Model kami menunjukkan, penurunan tanah bisa melipatgandakan luasan banjir hingga lebih dari 100 persen,” ujar Heri.


“Jakarta mau tidak mau harus menyiapkan daya tampung air yang jauh lebih besar. Jika ruang di permukaan sudah habis, solusinya adalah membangun ruang penyimpanan air di bawah tanah seperti water cathedral yang sudah terbukti berhasil di Tokyo.”
Heri Andreas, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB


Kondisi itu membuat pompa dan pengerukan sungai hanya menjadi solusi jangka pendek. Jakarta kini memiliki lebih dari 400 pompa untuk mengalirkan air dari cekungan banjir ke sungai atau laut. “Pompa penting karena Jakarta sudah bermasalah secara gravitasi, tapi itu belum cukup,” kata Heri.

Karena ruang di permukaan kota semakin terbatas, Heri mengusulkan Jakarta meniru Tokyo dengan membangun water cathedral. Konsep ini berupa ruang-ruang raksasa di bawah tanah yang berfungsi sebagai penyimpanan air sementara saat hujan ekstrem. “Tokyo sudah membuktikan, di bawah tanah dibuat storage besar, aman dan efektif, asal konstruksinya benar,” ucapnya.

Menurut Heri, sistem polder seperti di Pluit, Sunter, dan Kamal Muara masih perlu diperbesar atau diperbanyak. Perubahan iklim diperkirakan membuat curah hujan makin ekstrem, sehingga kapasitas daya tampung Jakarta harus ditingkatkan secara signifikan. “Kota metropolitan harus berpikir ke depan, menyiapkan kapasitas yang lebih besar,” ujarnya.

Sementara itu, di tingkat warga, Agus Ramlan menekankan pentingnya kesiapsiagaan sosial. Ia berharap pompa tetap berfungsi optimal dan kerja bakti massal terus digalakkan. “Kebersihan dan respons cepat warga itu kunci, jangan tunggu banjir besar baru bergerak,” ujar Agus.





Rekomendasi Berita