KBRN, Jakarta: Disudut taman kota hingga tepi jalan, aroma kopi kini tak lagi hanya berasal dari cafe besar. Dari sepeda, motor, hingga mobil modifikasi, kopi keliling hadir menyapa penikmatnnya di berbagai ruang publik.
Kebiasaan minum kopi yang semakin mengakar di masyarakat menjadi peluang emas bagi pelaku usaha. Konsep kopi keliling pun tumbuh sebagai jawaban atas kebutuhan mobilitas dan gaya hidup serba praktis.
Dikutip dari laman resmi umkmindonesia.id pada Senin (12/1/2026) model usaha ini memungkinkan penjual mendekati langsung konsumennya. Dengan berpindah dari satu titik ke titik lain, kopi bisa menjangkau pekerja, mahasiswa hingga warga sekitar.
Salah satu pemandangan yang kini kerap dijumpai adalah kopi sepeda yang sederhana namun menarik. Sepeda yang dimodifikasi dengan alat seduh menual itu sering berhenti di car free day atau dekat kampus, menjadi magnet begi pejalan kaki.
Ada pula mobil van dan truk kopi yang tampil mencolok layaknya cafe mini berjalan. Di dalamnya memungkinkan penggunaan mesin espresso, freezer untuk es dan rak panjang untuk kudapan pendamping.
Untuk menjangkau kawasan yang lebih sempit, kopi motor box menjadi solusi. Dengan lincah, kendaraan roda dua ini mampu menyusuri gang dan area padat sambil tetap menyajikan kopi bagi pelayan yang terburu waktu.
Bagi pecinta minuman dingin, cold brew dan kopi botolan keliling menawarkan kesegaran praktis. Produk yang sudah disiapkan lebih dulu ini memungkinkan penjual melayani banyak pembeli dalam waktu singkat.
Peluang usaha kopi keliling terus berkembang mengikuti tren konsumsi kopi masyarakat. Model bisnis ini dinilai adaftif karena meneyesuaikan diri dengan lokasi, pasar dan modal yang dimiliki.
Konsistensi rasa dan pelayanan yang hangat menjadi penentu keberhasilan. Hubungan personal dengan pelanggan sering kali menjadi alasan mereka kembali membeli.
Dari konsep sederhana hingga yang berkelas, kopi keliling kini menjadi wajah baru industri kopi Indonesia. Di balik setiap cup yang disajikan di jalanan, tersimpan cerita tentang kreativitas, keberanian dan mimpi para wirausaha.
(FitriYanti puspita Dewi – Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djtai Bandung)