Thrasher, Majalah yang Merchandise-nya jadi Ikon Fesyen Dunia
- by DYAKSA ANGGALOKA MUISCADAFIA
- Editor Gandi Lukmanto
- 20 Jan 2026
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Kaos Thrasher dengan logo api menyala di atas latar hitam pernah menjadi salah satu barang fesyen paling mudah dikenali di seluruh dunia. Dari
skater sejati hingga mereka yang sama sekali tidak memahami budaya skateboarding, hampir semua orang pernah mengenakan kaos ini. Popularitasnya menjadi bukti bahwa budaya skate dengan cepat merembes ke arus utama fesyen global, terutama sepanjang dekade 2010-an. Namun, di balik status ikonik tersebut, kaos Thrasher juga memicu kontroversi, terutama dari komunitas yang membesarkannya.Menurut ulasan
culted.com, Thrasher bermula bukan sebagai merek fesyen, melainkan majalah skateboard yang didirikan pada 1981. Majalah ini menjadi panduan bagi skater dari berbagai level, memuat trik, musik, fotografi, wawancara, hingga ulasan skatepark. Identitas Thrasher semakin menguat ketika Jake Phelps mengambil alih posisi editor pada 1991, membawa sikap yang lebih memberontak, anti-otoritas, dan menentang norma sosial arus utama.Sebelum menjadi fenomena global, logo Thrasher sudah lebih dulu diproduksi dalam bentuk
merchandise pada 1988, berupa kaos dan sweatshirt. Di kalangan skater Amerika Serikat, mengenakan kaos Thrasher bukan sekadar soal gaya, melainkan simbol kesamaan sikap: anti-sistem, anti-kemapanan, dan kebebasan berekspresi. Pada era 1980-an, kaos ini berfungsi layaknya “seragam” tak resmi bagi komunitas skateboard.Ledakan popularitas terbesar justru terjadi jauh setelahnya, yakni pada awal 2010-an.
Culted.com mencatat bahwa musisi Tyler, The Creator dan A$AP Rocky menjadi pemicu kebangkitan tersebut. Pada 2012, keduanya mengenakan Thrasher saat acara South by Southwest, yang berujung viral di media. Foto A$AP Rocky dengan hoodie Thrasher tie-dye tersebar luas.Sejak saat itu, Thrasher tak lagi eksklusif milik
skater. Sejumlah selebritas dunia seperti Rihanna, Ryan Gosling, hingga Justin Bieber tertangkap kamera mengenakan produk Thrasher. Ketika Vogue bahkan menyebut kaos Thrasher sebagai outfit ideal “model off-duty”, popularitasnya meroket. Industri fast fashion pun ikut memproduksi tiruan logo api tersebut, membuatnya semakin masif di ruang publik.Namun, arus utama ini justru memicu kemarahan komunitas
skateboard. Bagi mereka, Thrasher bukan sekadar tren, melainkan simbol perjuangan, luka, dan kerasnya kehidupan jalanan. Jake Phelps sendiri secara terbuka menentang komersialisasi ini. Dalam wawancara yang dikutip culted.com pada 2016, ia menyatakan bahwa Thrasher tidak mengirim produk ke selebritas karena “perjuangan, luka, dan kerasnya kehidupan jalanan” adalah realitas sejati skateboard.Tak lama kemudian, siklus tren berjalan seperti biasa. Kaos Thrasher perlahan ditinggalkan oleh pemakai fesyen musiman dan dianggap usang. Meski begitu, bagi komunitas
skateboarding, Thrasher tetap memiliki makna yang tak tergantikan. Sebuah barang bisa menjadi viral dan ditarik ke arus utama, tetapi akar budaya dan identitasnya akan selalu kembali ke tempat asalnya.