Langkah Awal Red Bull Racing di Formula 1

KBRN, Jember: Pada tahun 2004, David Coulthard menjalani musim terakhirnya bersama McLaren. Pembalap asal Skotlandia yang akrab disapa DC itu menyadari bahwa masa depannya di tim berbasis Woking telah berakhir, terlebih dengan kedatangan Juan Pablo Montoya sebagai penggantinya. Dalam situasi tersebut, Coulthard mulai mempertimbangkan opsi lain, termasuk tawaran dari Jaguar. Namun, seperti diungkapkannya kepada

motorsport.com hampir dua dekade kemudian, ia memutuskan lebih baik meninggalkan Formula 1 daripada bergabung dengan tim tersebut karena kurangnya keyakinan terhadap kepemimpinan dan arah Jaguar.

Keraguan Coulthard terhadap Jaguar justru membuka jalan bagi peluang tak terduga dari Red Bull. Perusahaan minuman energi itu tengah mempersiapkan langkah besar di Formula 1 dengan menggandeng sosok muda bernama Christian Horner. Saat itu, Horner masih membangun reputasinya setelah sukses besar di level junior, termasuk memenangkan kejuaraan Formula 3000 (kini Formula 2) tiga tahun berturut-turut.Dalam podcast Talking Bull, Horner menceritakan bahwa ia sempat didorong Bernie Ecclestone untuk membeli tim Jordan. Namun proses tersebut berjalan rumit, hingga akhirnya Red Bull justru mengakuisisi Jaguar pada November 2004. Tak lama setelah akuisisi itu, Helmut Marko menghubungi Horner dan mempertemukannya dengan Pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz di Salzburg. Di sanalah Mateschitz menyampaikan ambisinya untuk membangun tim besar di Formula 1 dan menunjuk Horner, yang kala itu baru berusia 31 tahun, sebagai team principal Red Bull Racing.Horner yang baru menjabat pun mengincar Coulthard sebagai figur berpengalaman untuk memimpin tim di lintasan. Coulthard mengingat bahwa pada awalnya ia masih berhati-hati dan meminta untuk menjalani tes terlebih dahulu sebelum menandatangani kontrak. Ia ingin melihat langsung apakah tim ini memiliki kepemimpinan, investasi, dan keyakinan yang jelas terhadap arah masa depan, hal-hal yang sebelumnya ia anggap tidak dimiliki Jaguar. Keputusan Coulthard akhirnya dipengaruhi oleh pertemuannya dengan Dietrich Mateschitz. Coulthard mengungkap bahwa ia terkesan dengan visi jangka panjang Mateschitz terhadap Formula 1. Ia melihat Red Bull bukan sebagai sponsor musiman, melainkan sebagai entitas yang serius membangun tim balap. Bahkan, Coulthard diberi ruang untuk terlibat dalam diskusi strategis dan pengambilan keputusan penting tim pada masa-masa awal.Salah satu keputusan paling krusial dalam sejarah Red Bull Racing adalah perekrutan Adrian Newey. Coulthard berperan penting dalam proses tersebut, memanfaatkan hubungan lamanya dengan Newey sejak era Williams dan McLaren. Christian Horner bahkan bergurau bahwa Coulthard bergerak lebih cepat dari Tinder, dengan mengatur makan malam rahasia di London yang menjadi awal pendekatan serius terhadap Newey.Pertemuan itu berujung pada keputusan besar. Pada 8 November 2005, Red Bull Racing resmi mengumumkan bergabungnya Adrian Newey, sebuah momen yang menurut Horner menjadi titik balik persepsi pada paddock tim. Sebelumnya, Red Bull kerap dipandang hanya sebagai “tim pesta”, namun kehadiran Newey mengubah citra tersebut secara signifikan.Pada musim debutnya, Red Bull Racing memang dikenal dengan atmosfer santai dan terbuka, termasuk musik keras di garasi dan

hospitality bernama Energy Station. Coulthard dan Horner sama-sama menilai pendekatan ini sebagai napas segar di paddock Formula 1, meskipun banyak pihak salah mengartikannya sebagai tanda ketidakseriusan. Horner menegaskan bahwa di balik citra santai itu, Red Bull memiliki tekad yang sama kuatnya untuk menang seperti tim-tim besar lain.Hasilnya mulai terlihat sejak musim pertama. Red Bull mencetak 34 poin pada 2005, jauh melampaui raihan Jaguar pada tahun sebelumnya. Horner bahkan bercanda bahwa bonus per poin dari Mateschitz saat itu menyelamatkannya dari masalah membayar utang.Kini, Red Bull Racing telah menjelma menjadi kekuatan dominan dengan delapan gelar juara dunia pembalap dan enam gelar konstruktor. Coulthard menegaskan bahwa benih kesuksesan itu sudah terlihat sejak awal. Jika ia tidak melihat potensi tersebut pada 2005, ia tidak akan pernah menandatangani kontrak dengan Red Bull, sebuah keputusan yang kini terbukti menjadi salah satu langkah paling menentukan dalam sejarah modern Formula 1.

Rekomendasi Berita