Praktisi Kesehatan Beberkan Alasan Daerah 3T Kekurangan Dokter Spesialis

RRI.CO.ID, Jakarta - Praktisi Kesehatan Masyarakat, Dr. Ngabila Salama mengatakan, daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal (3T) masih mengalami kekurangan dokter spesialis. Kondisi ini disebabkan oleh distribusi dokter umum yang jauh lebih banyak dibandingkan dokter spesialis.

"Dokter spesialis memang sangat minim sekali. Terutama mereka harus mempunyai bassic atau dasar yaitu penyakit dalam," kata Ngabila dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Sabtu, 17 Januari 2026.

Menurutnya, dokter spesialis yang ditugaskan di daerah terpencil harus memiliki lima keahlian dasar. Di antaranya, penyakit dalam, bedah, anak, obgyn (kandungan), dan anastesi.

Ia mengatakan, kebutuhan akan keahlian tersebut menjadi krusial. Mengingat keterbatasan layanan kesehatan di wilayah terpencil masih menjadi persoalan serius.

Ketidaktersediaan dokter spesialis di suatu daerah dapat menimbulkan konsekuensi serius terhadap kesehatan publik. Tanpa adanya tenaga spesialis, proses tata laksana pasien menjadi terhambat karena penanganan medis tidak dapat dilakukan secara optimal.

"Konsekuensinya adalah tata penangangan pasien menjadi terhambat. Bahkan, itu bisa membahayakan keselamatan pasien dan pasien bahkan bisa sampai meninggal," ujarnya, menegaskan.

Kondisi ini berpotensi membahayakan keselamatan pasien, bahkan dalam kasus tertentu dapat menyebabkan kematian. Keterbatasan layanan spesialis juga memperbesar risiko keterlambatan diagnosis dan penanganan penyakit.

Salah satu daerah terpencil yang saat ini masih sulite mendapatkan akses kesehatan yang layak adalah wilayah Indonesia Timur. "Akes mobilitasnya sangat sulit sekali, perlu pesawat atau kapal untuk sampai rumah sakit rujukan," katanya, menjelaskan.

Ia berharap, pemerintah dapat segera merealisasikan pemerataan distribusi dokter spesialis ke daerah terpencil. Hal ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat menyoroti kurangnya distribusi dokter spesialis ke daerah 3T. Hal ini menyebabkan ketertinggalan kondisi fasilitas kesehatan di sana.

"Bahwa jumlah dokter dan dokter spesialis ini belum mencukupi. Sehingga banyak terjadi kekosongan di daerah terpencil, terluar, dan terdalam," katanya.

Menurutnya, dokter spesialis di Tanah Air berjumlah lebih kurang 5.680 dan mendekati 6.000 orang. Namun, jika dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara, angka tersebut terbilang banyak dari yang lainnya.

"Dibandingkan dengan negara Filipina, itu untuk kita tiga kali lipat jumlahnya. Tapi mengapa pelayanan kesehatannya kurang?" ujarnya.

Ia mengatakan, Menteri Kesehatan berperan penting dalam pendistribusian dokter dan spesialis ini ke daerah. Terutama, di wilayah Indonesia Timur.

Rekomendasi Berita