Drakor Slow Burn Masih Laku?

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di tengah tren drama Korea yang penuh konflik cepat dan plot twist di tiap episode, genre

slow burn justru masih bertahan, bahkan punya penontonnya sendiri. Salah satu contoh terbarunya adalah Can This Love Be Translated?, drama yang sejak awal tidak menjanjikan ledakan emosi, melainkan hubungan yang tumbuh pelan lewat percakapan sederhana dan jeda yang panjang. Menurut Netflix Tudum, Can This Love Be Translated? memang diposisikan sebagai romansa dewasa dengan tempo tenang, mengandalkan chemistry pemeran dan dinamika relasi, bukan konflik besar. Drama ini mengikuti kisah penerjemah dan aktris ternama yang relasinya berkembang perlahan, nyaris tanpa drama berisik. Justru di situlah letak daya tariknya. Respons penonton pun terbilang stabil. Di IMDb, drama ini mendapat rating yang konsisten sejak episode awal, dengan banyak ulasan yang menyebutnya “pelan tapi hangat”. Soompi juga mencatat bahwa drama ini mendapat sambutan positif dari penonton yang menyukai romansa realistis, cinta yang tidak instan, tidak meledak-ledak, tapi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelum

Can This Love Be Translated?, ada My Liberation Notes yang sempat menjadi perbincangan karena alurnya yang hening dan dialog minim. Drama tersebut, seperti dicatat oleh The Korea Herald, justru dipuji karena keberaniannya membiarkan karakter berkembang tanpa tekanan plot. Hal serupa juga terlihat pada Call It Love, yang menurut ulasan di NME menghadirkan romansa muram dan lambat, namun emosinya bertahan lama di ingatan penonton. Contoh lain adalah One Spring Night, yang hingga kini masih sering disebut di forum seperti Reddit r/KDRAMA sebagai salah satu slow burn romance paling “jujur”. Drama ini tidak menjual konflik ekstrem, tetapi membiarkan penonton menyaksikan perubahan perasaan secara natural, sesuatu yang justru terasa langka di tengah banjir drama cepat saji.

Menariknya, drakor slow burn cenderung tidak mengejar rating tinggi di awal penayangan. Namun, drama-drama seperti ini sering bertahan lewat

word of mouth. Penonton yang cocok akan merekomendasikannya ke penonton lain yang mencari tontonan tenang dan emosional. Pola ini juga terlihat pada Can This Love Be Translated?, yang lebih sering disebut sebagai “comfort drama” ketimbang drama viral. Di tengah budaya menonton yang serba cepat, keberadaan drakor slow burn seperti menjadi ruang jeda. Ia tidak menuntut penonton untuk terus terpaku, tetapi mengajak hadir, mendengar, dan merasakan. Dan selama masih ada penonton yang menikmati proses, bukan hanya hasil, genre ini tampaknya akan terus punya tempat.

Rekomendasi Berita