Quarter Life Crisis: Antara Ekspetasi dan Realita

RRI.CO.ID, Madiun – Memasuki usia dewasa awal, individu cenderung mengalami quarter life crisis. Quarter life crisis dapat diartikan sebagai kondisi di mana individu merasakan cemas, bingung, dan hilang arah dalam hidupnya. Hal ini disebabkan karena individu sedang berada dalam fase transisi dari dunia yang awalnya bergantung dengan orang tua, kini berada pada dunia di mana dirinya dituntut untuk menjadi mandiri dan serba bisa oleh lingkungan yang ada.



“Usia 18 – 40 tahun merupakan masa overthinking atau masa QLC. Pikiran tentang usia sekarang belum bisa berbuat apa-apa. Belum berprestasi apa-apa dan juga belum bisa memberi apa-apa kepada kedua orangtua. Singkatnya, penyebab QLC karena harapan tidak sesuai dengan kenyataan” Dikatakan David Ary Wicaksono, M.Si. Dosen Prodi Psikologi UKWMS Kampus Madiun, saat menjadi narasumber acara Pengarus Utamaan Gender & Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Senin 19 Januari 2026

QLC juga disebabkan adanya tuntutan dari lingkungan yang memaksa individu untuk menjadi lebih mandiri, kuat, dan serba bisa membuat individu menjadi merasa tertekan dan tidak menutup kemungkinan merasa "kosong" atau hampa. Terkadang, individu tidak mengetahui apa yang harus dirinya lakukan sebagai langkah selanjutnya. Nah, Apabila tidak dapat diatasi dengan baik, besar kemungkinan perasaan ini bisa berubah menjadi gangguan mental.

Ekspektasi hidup pada usia dewasa awal tidak lahir secara netral. Ia dibentuk oleh lingkungan keluarga, sistem pendidikan, norma budaya, dan terutama media sosial. Sejak dini, individu diperkenalkan pada narasi bahwa hidup adalah perlombaan, seperti sekolah, kuliah, kerja, menikah, dan mapan. Narasi ini menciptakan standar universal tentang “hidup yang berhasil”, seolah setiap individu harus mencapai tonggak yang sama pada usia yang sama.

“Nah, Masalah kecemasan hidup ini muncul ketika ekspektasi tersebut tidak mempertimbangkan realitas individual, seperti kondisi ekonomi, kesehatan mental, dinamika keluarga, dan perubahan struktur kerja. Ketika realita tidak sesuai dengan standar ideal tersebut, individu cenderung menafsirkan keterlambatan atau kegagalan sebagai cacat personal, bukan sebagai konsekuensi dari sistem yang tidak selalu adil. Dengan kata lain, quarter life crisis sering kali bukan karena individu kurang mampu, tetapi karena ekspektasi yang terlalu sempit dan tidak realistis” Tutup David

Rekomendasi Berita