Tombol Like, Jebakan Halus Sosmed yang Tidak Disadari
- by Muh. Iqbal Aminullah
- Editor Achmad Apri Sudin
- 18 Jan 2026
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pernah tidak pas lagi kita bengong tunggu ojek atau antri di kasir, tiba tiba merasa ada yang hilang kalau tidak pegang hp, rasa panik, tangan meraba-raba saku, mata mencari layar. Begitu layar nyala, kita langsung disajikan puluhan video acak dengan berbagai tema seperti joget, pamer saldo bank, curhat masalah pribadi. Reaksi mengalir seperti tertawa, ikut interaksi dengan
like dan komen, secara tidak sadar setelah dua jam scrolling, rasanya kenapa kosong.Setiap kali kita mendapat “like”, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Sensasi ini mirip dengan hadiah kecil yang membuat kita ketagihan. Tanpa sadar, kita mulai mengaitkan rasa puas dengan jumlah “like” yang diterima.
Masalah muncul ketika rasa senang itu berubah menjadi kebutuhan. Banyak orang akhirnya menilai diri mereka berdasarkan jumlah “like”, bukan dari kualitas interaksi nyata. Hal ini bisa menimbulkan kecemasan dan rasa kurang percaya diri jika respons yang diterima tidak sesuai harapan.
Selain itu dilansir
newspointapp tombol “like” juga menjadi alat bagi platform untuk mengukur minat dan perilaku pengguna. Data dari setiap klik digunakan untuk memprediksi kebiasaan, membentuk algoritma, dan bahkan memengaruhi cara kita melihat dunia.Jebakan halus lainnya adalah pergeseran makna interaksi. Alih-alih berbicara atau berdiskusi, kita sering merasa cukup dengan menekan “
like”. Akibatnya, hubungan sosial bisa menjadi dangkal dan kehilangan kedalaman.Lebih jauh, tombol ini juga bisa menciptakan ilusi popularitas. Konten yang mendapat banyak “
like” dianggap lebih berharga, meski belum tentu benar atau bermanfaat. Hal ini membuat orang terdorong untuk menampilkan sisi terbaik, bahkan kadang palsu, demi mendapatkan perhatian.Tidak jarang, pengguna akhirnya terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial. Melihat orang lain mendapat lebih banyak “
like” bisa menimbulkan rasa iri atau minder. Padahal, angka itu tidak selalu mencerminkan kualitas hidup seseorang.Pada akhirnya, tombol “
like” bukan sekadar fitur kecil. Ia adalah mekanisme yang dirancang untuk menjaga perhatian kita tetap melekat pada layar. Menyadari jebakan halus ini adalah langkah penting agar kita bisa menggunakan media sosial dengan lebih sehat dan bijak.