SMP “Dolar”, Sejarah Panjang yang Membentuk Karakter Sekolah

KBRN, Mataram: Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Mataram berdiri sebagai salah satu sekolah menengah pertama tertua di Kota Mataram. Keberadaannya di kawasan Ampenan menjadikan sekolah ini lekat dengan dinamika sosial masyarakat pesisir sejak puluhan tahun lalu.

Didirikan pada 1 Agustus 1967, sekolah ini tumbuh bersamaan dengan perubahan wajah Ampenan sebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi. Dari ruang-ruang kelasnya, ribuan siswa telah ditempa dalam berbagai fase perkembangan kota.

Kepala SMPN 3 Mataram, Suherman, M.Pd., menjelaskan bahwa perjalanan panjang itu membentuk identitas khas sekolah. Salah satu yang paling dikenal publik adalah julukan “SMP Dolar” yang masih bertahan hingga kini.

“Julukan itu tidak muncul begitu saja, tetapi lahir dari sejarah Ampenan sebagai pusat perekonomian pada masanya,” ujarnya, Minggu (11/1/2026)

Selain faktor sejarah ekonomi, kehidupan sosial siswa juga memberi warna tersendiri bagi sekolah. Sejak dulu, SMPN 3 Mataram banyak diisi anak-anak dari keluarga nelayan, buruh, dan pedagang kecil.

Kondisi tersebut membentuk karakter siswa yang dekat dengan realitas kerja keras sejak dini. Lingkungan ini pula yang memengaruhi cara sekolah memaknai proses pendidikan.

Menurut Suherman, kebiasaan siswa di masa lalu menjadi cerita tersendiri dalam sejarah sekolah. Anak-anak sering mencari uang receh sebelum berangkat sekolah.

“Recehan itu disimpan di saku atau sepatu, karena membantu orang tua sudah menjadi bagian hidup mereka,” katanya.

Kisah itu berlanjut ketika siswa mengikuti kegiatan lomba. Bunyi koin yang bergemerincing justru melahirkan identitas unik di kalangan pelajar.

Julukan tersebut kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Lambat laun, masyarakat pun mengenal SMPN 3 Mataram dengan sebutan SMP Dolar.

“Dari candaan anak-anak itulah nama SMP Dolar melekat dan terus digunakan sampai sekarang,” tutur Suherman.

Di balik cerita sederhana itu, sekolah ini mencatat banyak capaian penting. SMPN 3 Mataram dikenal sebagai sekolah yang melahirkan alumni berkiprah di berbagai bidang.

Para lulusan tersebar di institusi militer, kepolisian, hingga pemerintahan. Jejak mereka menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah.

“Kami bersyukur banyak alumni yang berhasil dan membawa nama baik sekolah,” ujarnya.

Namun, perjalanan panjang itu juga diiringi tantangan. Menurut Suherman, menjaga kualitas sekolah bersejarah tidak semudah yang dibayangkan.

Perubahan kebijakan pendidikan dan persepsi masyarakat turut memengaruhi dinamika sekolah. Kondisi tersebut menuntut penyesuaian berkelanjutan.

“Mempertahankan itu jauh lebih sulit daripada membangun, tetapi kami memilih terus berbenah,” kata Suherman menegaskan.

Rekomendasi Berita