Dari Pesisir Ampenan, SMP Dolar Bentuk Kemandirian Siswa

KBRN, Mataram: Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Mataram tumbuh di tengah masyarakat pesisir Ampenan. Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga nelayan, buruh, dan pedagang kecil.

Kondisi sosial tersebut menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan sekolah. Latar belakang keluarga sangat memengaruhi cara pandang siswa terhadap pendidikan.

Karena itu, sekolah memilih pendekatan yang kontekstual. Pendidikan tidak dilepaskan dari kehidupan sehari-hari siswa.

Kepala SMPN 3 Mataram, Suherman, M.Pd., menegaskan bahwa sekolah harus memahami realitas peserta didik. Pendekatan yang tidak sesuai konteks justru berisiko menjauhkan anak dari proses belajar.

“Kami harus adaptif dan memahami kondisi anak-anak sebelum mendidik mereka,” ungkapnya, Minggu (11/1/2026).

Sebagai langkah konkret, sekolah mengembangkan pembelajaran berbasis potensi lokal. Potensi bahari menjadi pintu masuk pendidikan karakter dan keterampilan hidup.

Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa dikenalkan pada pengolahan hasil laut. Proses belajar tidak hanya berlangsung di kelas. Anak-anak diajak memproduksi, mengemas, hingga memasarkan produk. Aktivitas ini dirancang agar siswa memahami nilai usaha.

“Kami ajarkan membuat dendeng ikan dan memasarkannya melalui bazar sekolah,” kata Suherman.

Bazar tersebut melibatkan orang tua dan masyarakat. Siswa belajar berinteraksi langsung dengan konsumen. Menurut Suherman, pengalaman ini penting untuk membangun rasa percaya diri. Anak-anak pesisir perlu melihat bahwa mereka memiliki potensi.

Pendidikan semacam ini diarahkan untuk menumbuhkan kemandirian. Sekolah ingin mengubah pola pikir siswa terhadap masa depan.

“Kalau tetap di sektor perikanan, setidaknya mereka punya bekal menjadi pengelola, bukan sekadar pekerja,” ujarnya.

Selain itu, sekolah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kegiatan bersama TNI Angkatan Laut dan komunitas lingkungan menjadi bagian pembelajaran.

Siswa diajak menanam mangrove dan mengenal pelestarian alam. Kegiatan ini memperkuat kesadaran ekologis sejak dini.

“Kami ingin anak-anak paham bahwa lingkungan adalah bagian dari hidup mereka,” tutur Suherman.

Di sisi lain, penguasaan teknologi tetap menjadi perhatian. Literasi digital diperkenalkan agar siswa tidak tertinggal.

“Life skill dan teknologi kami perkenalkan sebagai bekal masa depan,” katanya.

Pendekatan tersebut perlahan mengubah cara pandang siswa dan orang tua. Pendidikan mulai dipahami sebagai jalan meningkatkan kualitas hidup.

Rekomendasi Berita