Mengenal Kuau Raja, Burung Langka Pemilik Seratus Mata
- by Salma Amin
- Editor Muhammad Wahyu
- 15 Jan 2026
- Nunukan
KRBN, Nunukan: Satwa langka Kuau Raja (Argusianus argus) sempat terekam melalui camera trap di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Satwa langka 'Pemilik Seratus Mata' ini masuk dalam kategori rentan berdasarkan IUCN Red List dan berstatus dilindungi.
Mengutip buku Fauna Indonesia Yang Terancam Punah oleh Oktavia Rokhimaturrizki (2022), Kuau Raja-atau dalam nama ilmiahnya Argusianus Argus-merupakan salah satu burung di dalam suku Phasianidae. Nama binominal spesies ini diberikan oleh Carolus Linnaeus, yang diambil dari nama raksasa bermata seratus 'Argus' yang terdapat dalam mitologi Yunani.
Burung langka ini memiliki ciri khas kulit kepala berwarna biru dengan bulu coklat kemerahan. Burung jantan dewasa berukuran jumbo, panjangnya bisa mencapai 200 cm.
Di atas kepalanya terdapat jambul dan bulu tengkuk berwarna kehitaman. Selain itu, burung jantan dewasa juga memiliki bulu sayap dan ekor yang sangat panjang, dihiasi oleh bintik-bintik besar menyerupai mata serangga atau oceli.
Sementara burung betina ukurannya lebih kecil dari burung jantan dengan panjang tubuh sekitar 75 cm. Burung betina juga memiliki jambul kepala berwarna kecoklatan dengan bulu ekor dan sayap betina dihiasi sedikit oceli.
Ketika musim berkembangbiak, burung jantan memamerkan bulu sayap dan ekornya di depan sang betina. Bulu-bulu sayapnya terbuka dan membentuk kipas, seolah memamerkan "ratusan mata" miliknya. Sementara burung betina menetaskan hanya dua telur saja.
Baca Juga: Kuau Raja, Satwa Langka Terekam di Hutan Kalimantan
Sebaran Populasi: Sumatra hingga Borneo
Populasi Kuau Raja tersebar di Asia Tenggara, tepatnya ditemukan di hutan tropis Sumatra, Borneo, dan Semenanjung Malaysia. Mengutip buku Hutan Pasca Pemanenan oleh Erick Mijaard (2006), status populasi dan kepadatannya di Borneo semakin jarang ditemukan di daerah bagian hilir.
Kuau Raja hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan, namun dalam jangka panjang spesies ini dianggap aman dalam cagar-cagar hutan dan hutan produksi yang dikelola dengan baik (Holmes 1989).
Di TNKM, Kuau Raja tak hanya dilindungi tetapi erat dengan budaya masyarakat adat sekitar. Bahkan, warga adat setempat menyebut burung ini sebagai “Burung Kuwai” karena suara panggilannya yang khas. Suara itu terdengar seperti memanggil namanya sendiri dan bisa terdengar dari jarak cukup jauh di tengah hutan. (TA)