Bangkit dari PHK, Rumah Scrunchie Tembus Prestasi Nasional

KBRN, Palembang: Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami menjelang kelahiran anak pertama sempat membuat Ipa Puji Astuti terpuruk. Namun, kondisi itu justru menjadi titik balik yang mengantarkannya membangun Rumah Scrunchie, UMKM berbasis kerajinan tangan yang kini menorehkan prestasi hingga tingkat nasional.

Usaha yang dirintis sejak 2022 tersebut mengolah limbah tekstil menjadi ikat rambut dan aksesori handmade bernilai jual. Bermula dari produksi rumahan, Rumah Scrunchie berkembang setelah Ipa aktif bergabung dengan komunitas perajin, mengikuti pameran Islamic Fest Ramadhan 2022, hingga lolos Program Inkubasi Bisnis Nasional Beli Kreatif Sumatera Selatan 2022.

Rumah Scrunchie memanfaatkan kain perca hasil sisa penjahit rumahan yang dikumpulkan, disortir, dipotong, lalu dijahit di rumah produksi Talang Jambe dan oleh mitra penjahit. Produk yang lolos kontrol kualitas kemudian dipasarkan di Plaza UMKM Palembang Square Mall dan LG Palembang Indah Mall.

Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi usaha ini setelah bergabung dalam Program Pertamina UMK Academy. Selama lebih dari enam bulan, Ipa mendapatkan pendampingan intensif, penguatan inovasi produk, serta akses pameran nasional melalui SMEXPO Palembang dan Bandar Lampung 2024. Rumah Scrunchie bahkan berhasil masuk 100 besar nominator Pertamina UMK Academy 2024.

“Dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel sangat berarti, tidak hanya dalam bentuk alat produksi, tetapi juga pendampingan yang membuat kami terus berkembang dan percaya diri,” ujar Ipa Puji Astuti.

Di luar capaian bisnis, Rumah Scrunchie juga menjadi ruang pemberdayaan sosial. Usaha ini melibatkan empat pegawai tenant dan tiga tim produksi dari kalangan keluarga kurang mampu, termasuk ibu rumah tangga. Selain itu, tiga pemasok kain perca juga berasal dari kelompok masyarakat serupa.

Salah satu anggota tim produksi, Neneng Kurnia, mengaku penghasilan dari Rumah Scrunchie menjadi penopang penting dalam hidupnya.

“Kesempatan bekerja di Rumah Scrunchie sangat berarti bagi saya. Penghasilan ini membantu saya hingga bisa menyelesaikan pendidikan sarjana,” ujar Neneng.

Saat ini, Rumah Scrunchie mencatat omzet rata-rata Rp24 juta per bulan, dengan peningkatan signifikan pada musim tertentu. Selain menjual produk aksesori kain, usaha ini juga menggelar workshop do it yourself (DIY) dan aktif menjadi narasumber di berbagai kegiatan kewirausahaan.

Sejumlah penghargaan berhasil diraih, di antaranya Juara 1 Karya Nyata Festival Vol. 11 kategori Business Plan BUMN 2024, masuk 10 Besar Nasional Anugerah Bangga Buatan Indonesia 2024 sebagai wakil Sumatera Selatan, serta berbagai apresiasi lainnya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menyebut, Rumah Scrunchie sebagai contoh nyata keberhasilan pendampingan UMKM berkelanjutan.

“Dari keterpurukan akibat PHK, Ipa kini mampu meraih prestasi dan memberdayakan banyak orang. Inilah komitmen kami dalam membuka peluang usaha sekaligus mendorong ekonomi sirkular yang bernilai dan ramah lingkungan,” kata Rusminto.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pendampingan Rumah Scrunchie turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, penciptaan pekerjaan layak, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Rekomendasi Berita