YouTube Melonggarkan Iklan untuk Konten Isu Sensitif
- by Selviani Ayonang
- Editor Aditya Abrianto
- 18 Jan 2026
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - YouTube baru saja mengambil langkah besar dengan memperbarui kebijakan monetisasi mereka bagi para kreator di seluruh dunia. Kini, konten yang membahas isu kontroversial seperti aborsi hingga kekerasan domestik berpeluang mendapatkan pendapatan iklan secara penuh.
Dilansir dari laman TechCrunch pada Jumat, 16 Januari 2026, kebijakan baru ini bertujuan memberikan ruang bernapas bagi konten yang dikemas dalam bentuk drama atau edukasi non-vulgar. Selama ini, video dengan topik sensitif sering kali terkena "ikon dolar kuning" yang membatasi penghasilan para kreatornya.
Pihak YouTube mengakui bahwa aturan lama mereka terlalu kaku dan sering merugikan kreator yang berbagi pengalaman pribadi. Perubahan ini merespons keluhan komunitas yang merasa karya berkualitas mereka justru terhambat oleh sistem sensor otomatis.
Meskipun lebih longgar, YouTube tetap menetapkan batasan tegas terhadap detail grafis yang dianggap terlalu vulgar. Narasi yang didramatisasi atau disampaikan secara sepintas kini dianggap lebih ramah bagi pengiklan daripada sebelumnya.
Keputusan ini mencerminkan pergeseran strategi platform dalam menghadapi dinamika sosial dan politik yang kian berkembang. Menariknya, langkah ini diambil di tengah tren pengurangan moderasi konten yang juga terjadi di berbagai media sosial lain.
Namun, tidak semua topik mendapatkan lampu hijau untuk bebas memanen iklan dari penonton. Isu krusial seperti pelecehan anak dan gangguan makan tetap dilarang keras untuk mendapatkan monetisasi demi keamanan publik.
Para kreator kini ditantang untuk mengemas isu berat dengan cara yang lebih elegan dan informatif. Masa depan monetisasi YouTube tampaknya akan lebih berpihak pada kedalaman cerita dibandingkan sekadar menghindari topik tabu.
Pelonggaran ini menjadi kabar baik bagi kreator film pendek dan podcaster di tanah air yang sering mengangkat isu sosial. Selama ini, banyak sineas lokal yang ragu memproduksi drama bertema kekerasan domestik atau isu kesehatan mental karena takut video mereka tidak menghasilkan uang.
Dengan aturan baru, konten edukasi dan karya seni yang "berani" namun sopan dapat lebih berkelanjutan secara finansial. Selain itu, kebijakan ini diprediksi akan meningkatkan kualitas narasi pada konten yang menyajikan diskusi dan opini.
Kreator tidak lagi perlu melakukan sensor berlebihan atau menggunakan kata-kata sandi (clue) yang aneh saat membahas isu sensitif agar terhindar dari pembatasan iklan. Hal ini memungkinkan diskusi publik yang lebih jujur dan terbuka mengenai realita sosial yang ada di masyarakat Indonesia.