Pembalut Kain Didorong Jadi Gaya Hidup Sehat Perempuan
- by Della Ayu Anggraini
- Editor Agrani Sihombing
- 20 Jan 2026
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Penggunaan pembalut kain dinilai mampu mendukung gaya hidup sehat dan ramah lingkungan bagi perempuan. Hal ini ditegaskan dalam program Pengarusutamaan Gender RRI Palembang pada Senin 19 Januari 2026.
Direktur Women Crisis Center (WCC) Yesi Ariyani menilai pembalut kain dapat menjadi solusi atas limbah pembalut sekali pakai. Ia mengajak masyarakat mulai beralih demi menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan.
“Menstruasi bukan hal tabu. Orang tua harus terbuka menjelaskan sebelum anak perempuan memasuki usia haid,” katanya.
Ia menyebut edukasi sejak dini sangat penting untuk membangun pemahaman yang sehat tentang perubahan tubuh perempuan. Menurutnya, pembicaraan soal haid harus dimulai dari rumah.
Yesi menambahkan pembalut kain merupakan produk hasil kreasi perempuan dari kebutuhan nyata kaum perempuan. Ia menilai pembalut ini lebih aman untuk tubuh dan minim risiko iritasi.
“Pembalut kain muncul dari kesadaran perempuan. Ini produk yang berpihak pada kesehatan dan keselamatan,” ujarnya.
Koordinator Cindo Pads Nyimas Eli Agustina menjelaskan, penggunaan pembalut kain berkontribusi besar terhadap pengurangan limbah yang sulit terurai. Ia menyebut pembalut sekali pakai mengandung bahan kimia berbahaya.
“Limbah pembalut sekali pakai sulit diurai dan membahayakan lingkungan. Pembalut kain adalah solusinya,” tuturnya.
Nyimas juga menilai pembalut kain membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah. “Produksi pembalut kain mampu menggerakkan ekonomi penjahit lokal, apalagi saat ekonomi belum stabil,” katanya.
Menurut Nyimas, sosialisasi pembalut kain harus terus digencarkan kepada masyarakat luas. Ia menegaskan pembalut ini bisa menjadi alternatif sehat yang terjangkau.
Yesi menyampaikan bahwa edukasi menstruasi juga dapat mencegah diskriminasi dan rasa malu. Ia mengajak semua pihak terlibat menghapus stigma di lingkungan sekolah dan keluarga.
“Anak harus tahu tubuhnya sejak dini. Jangan sampai mereka belajar dari sumber yang salah,” tegasnya.