Workshop Rotan Perkuat Daya Saing UMKM Kaltim

KBRN, Samarinda: Pelatihan keterampilan yang efektif tidak hanya bergantung pada praktik, tetapi juga pada kurikulum yang jelas dan terstruktur. Hal inilah yang diterapkan UPTD Pelatihan Koperasi DPPKUKM Provinsi Kalimantan Timur dalam workshop kerajinan rotan. Kurikulum disusun bertahap agar peserta benar-benar memahami proses pengolahan rotan dari hulu hingga hilir.

Operator Layanan Operasional UPTD Pelatihan Koperasi Kaltim, Yuyun Safutro, menjelaskan durasi pelatihan disesuaikan dengan jenis keterampilan yang dipelajari. Menurutnya, waktu tersebut diperlukan karena peserta belajar sejak tahap pengolahan bahan mentah. “Untuk anyaman rotan, pelatihannya biasanya berlangsung selama tiga hari, sedangkan untuk mebel rotan bisa lima sampai tujuh hari,” ujar Yuyun kepeda RRI, seperti dilansir dari laman youtube RRI Samarinda, Rabu (7/1/2026).

Dalam workshop ini, peserta dibekali pengetahuan dasar hingga lanjutan, termasuk cara memilih bahan baku berkualitas. Yuyun menegaskan, pemilihan rotan menjadi kunci utama keberhasilan produk. “Peserta diajarkan membedakan rotan tua dan muda, karena tidak semua rotan layak digunakan,” ucap Yuyun.

Dari sisi ekonomi, kerajinan rotan memiliki potensi yang menjanjikan. Untuk produk mebel, seperti satu set kursi dan meja rotan, nilai jualnya dapat mencapai jutaan rupiah. Nilai tersebut menunjukkan bahwa rotan bukan sekadar kerajinan, tetapi juga peluang usaha yang prospektif. “Satu set kursi rotan lengkap bisa bernilai sekitar lima juta rupiah, apalagi jika ditambah sofa dan kaca,” katanya.

Baca juga: Menghidupkan Ekonomi Kreatif Kaltim Lewat Lokakarya Rotan

Materi inti workshop disusun secara sistematis, mulai dari persiapan bahan, penyusunan modul, pembuatan desain, hingga praktik langsung di ruang pelatihan. Peserta diarahkan mengikuti desain awal yang telah disiapkan instruktur. “Kami siapkan bahan, modul, dan desain agar peserta fokus belajar dan hasilnya seragam,” ucap Yuyun menjelaskan alur pembelajaran.

Metode pelatihan juga dilakukan secara bertahap. Yunus Tangke, selaku Operator Layanan Operasional UPTD Pelatihan Koperasi menyampaikan, peserta dengan potensi tinggi akan dibina lebih lanjut. Metode ini memastikan keterampilan peserta berkembang secara berkelanjutan. “Pelatihan dilakukan dua tahap, peserta yang terlihat menonjol akan masuk angkatan berikutnya untuk pendalaman,” ujar Yunus.

Setelah pelatihan selesai, UPTD tidak serta-merta melepas peserta. Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan keterampilan dan hasil karya. Evaluasi ini menjadi indikator keberhasilan pelatihan sekaligus bahan perbaikan program ke depan. “Kami tetap memantau progres peserta setelah pelatihan, melihat apa saja yang sudah mereka buat,” kata Yuyun.

Manfaat pelatihan dirasakan langsung oleh peserta. Dari yang semula belum memiliki keterampilan, kini mampu membuat produk sederhana seperti tempat pensil, tudung saji, dan kotak serbaguna. Produk tersebut bahkan bisa dijual dengan harga terjangkau. “Hasil pelatihan biasanya dibawa pulang oleh peserta dan bisa langsung dimanfaatkan,” ucap Yuyun.

Dampak ekonomi dari pelatihan ini mulai terlihat di sejumlah daerah. Yunus menyebutkan, beberapa peserta telah membuka usaha sendiri, baik secara mandiri maupun berkelompok. “Di daerah seperti Mahakam Ulu dan Teluk Sumbang, sudah ada workshop rotan yang tumbuh dari alumni pelatihan,” ujar Yunus.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait bahan baku dan persaingan harga. Biaya distribusi rotan lokal yang tinggi membuat harga produksi kurang kompetitif dibandingkan daerah lain. Namun, dengan kurikulum yang kuat, kualitas produk, dan kreativitas desain, kerajinan rotan Kalimantan Timur tetap memiliki peluang besar untuk berkembang dan bersaing di pasar lokal maupun nasional.

Rekomendasi Berita