RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) kian pesat dan membawa perubahan besar dalam dunia visual digital. Batas antara realitas dan simulasi kini semakin kabur, terutama dengan hadirnya gambar hasil kecerdasan buatan yang tampak realistis. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menyerap informasi visual yang beredar di ruang digital.
Foto hasil manipulasi kecerdasan buatan saat ini memiliki kualitas tinggi dan sulit dibedakan dari foto asli. Tak jarang, konten semacam ini disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan disinformasi atau sekadar menciptakan konten estetik yang menyesatkan. Oleh karena itu, kemampuan literasi digital menjadi hal yang sangat penting.
Melansir dari
Android Authority CNN Indonesia pada tanggal 11 Januari 2026, salah satu cara mengenali foto kecerdasan buatan adalah dengan memperhatikan anatomi manusia dan hewan. kecerdasan buatan kerap menghasilkan kesalahan pada jumlah jari, bentuk tangan, atau sendi yang tampak aneh. Kulit manusia terlihat terlalu mulus tanpa pori, sementara pada hewan, tekstur bulu bisa tampak menggumpal dan mata terlihat tidak alami.Selain itu, perhatikan objek pendukung di sekitar subjek utama. AI biasanya fokus pada objek utama, namun sering mengabaikan logika pada latar belakang. Benda yang menyatu secara tidak wajar, arah bayangan yang tidak konsisten, atau struktur objek yang janggal bisa menjadi indikasi kuat foto hasil kecerdasan buatan.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah menggunakan pencarian gambar terbalik melalui Google Lens untuk menelusuri asal-usul gambar. Ciri lain yang patut dicurigai adalah keberadaan teks yang tidak jelas pada papan nama atau pakaian. Jika sebuah foto terlihat terlalu sempurna atau menimbulkan kesan visual yang aneh, masyarakat diimbau tetap skeptis dan melakukan verifikasi ulang sebelum mempercayainya.