Konsistensi Kunci Utama Jaga Kesehatan Jiwa 2026

  • by
  • Editor Rudi Mulyadi
  • 20 Jan 2026
  • Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki awal tahun 2026, fenomena pembuatan resolusi tahun baru kembali menjadi tren di tengah masyarakat. Namun, pakar psikologi menekankan bahwa kesehatan jiwa yang stabil tidak lahir dari target besar yang sesaat, melainkan dari konsistensi dalam melakukan perubahan-perubahan kecil setiap harinya.

Psikolog Rani Meita Pratiwi, M.PSI., mengungkapkan bahwa banyak resolusi yang gagal karena dibuat berdasarkan ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Menurutnya, motivasi besar di awal tahun seringkali merosot tajam saat memasuki bulan kedua atau ketiga karena seseorang merasa terbebani oleh target yang mereka buat sendiri.

"Resolusi biasanya besar-besar dan ingin pencapaian tertentu, sementara konsistensi fokus pada proses bertumbuh yang kecil namun dijalankan setiap hari. Perbedaan utamanya ada pada stabilitas motivasi," ujar Rani dalam dialog di RRI Samarinda. Beliau menambahkan bahwa fokus pada proses belajar dan disiplin jauh lebih menyehatkan mental daripada hanya terpaku pada hasil akhir yang sempurna.

Rani juga meluruskan miskonsepsi masyarakat yang menganggap sehat jiwa berarti harus selalu merasa bahagia atau memiliki hidup yang tanpa masalah. Sehat jiwa yang sebenarnya adalah ketika individu sadar akan potensi dan kelemahannya, serta mampu beradaptasi dengan kegagalan yang terjadi dalam hidup tanpa harus menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.

Dalam menjaga kesehatan mental, Rani menyarankan masyarakat untuk mulai membuat "resolusi harian" daripada resolusi tahunan. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menghindari perasaan gagal total atau pola pikir

all or nothing. Dengan target harian, seseorang bisa merayakan keberhasilan kecil dan lebih mudah untuk bangkit kembali jika mengalami kendala.

Tantangan di era digital dan tekanan ekonomi tahun 2026 juga menjadi faktor pemicu stres yang signifikan. Rani menekankan pentingnya dukungan sosial dan komunikasi yang hangat dalam keluarga sebagai penunjang. "Awali dengan kebiasaan sederhana, seperti menyapa keluarga setiap pagi. Itu adalah dasar membangun komunikasi sehat yang bisa menjaga kestabilan emosi," tuturnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan agar setiap individu tidak terlalu keras pada diri sendiri dan tetap menghargai setiap proses kecil yang dilalui. Konsistensi yang dijalankan selama tiga bulan secara terus-menerus akan berubah menjadi gaya hidup yang secara otomatis menjaga kesehatan jiwa seseorang secara paripurna.

"Kesehatan jiwa itu bukan warisan, melainkan usaha dan komitmen yang kita jalankan sendiri setiap hari. Jangan takut gagal, karena kegagalan yang sebenarnya adalah ketika kita berhenti mencoba," tegas Rani.

Rekomendasi Berita