Olahraga Lari Jadi Tren Anak Muda Indonesia

  • by Mulyati
  • Editor Marnisa Nurdian Saritri
  • 20 Jan 2026
  • Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Olahraga lari kini menjadi kegiatan yang banyak dilakukan oleh anak muda di berbagai kota di Indonesia, khususnya kalangan Milenial dan Generasi Z. Seperti halnya di di Kota Semarang, ramai anak muda yang terlibat dalam komunitas lari,

event fun run, hingga unggahan kegiatan di media sosial.

Selain untuk kesehatan, banyak anak muda yang mengikuti tren olahraga ini karena pengaruh media sosial, lingkungan pertemanan, serta keinginan untuk tidak tertinggal tren atau FOMO gaya hidup sehat. FOMO atau

fear of missing out biasanya dikaitkan dengan hal-hal yang berakibat negatif, namun berbeda dengan tren ini yang mengajak anak muda untuk lebih peka terhadap kesehatan diri sendiri.

Hal ini juga dirasakan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro, Azka. Ia menceritakan pengalaman lari yang ia lakukan.

“Biasanya juga ikut

event lari kok, kalo ada waktu. Aku juga punya komunitas sama jurusan kuliahku, dan itu seru karena ketemu banyak orang keren yang lebih jago larinya,” ungkapnya, Senin, 19 Januari 2026.

Olahraga lari dulu dianggap sebagai olahraga yang sederhana, namun kini menjadi bagian dari gaya hidup, komunitas di kalangan Milenial dan Generasi Z. Fenomena ini terlihat dari jumlah komunitas dan event lari yang jumlahnya makin bertambah.

Banyak masyarakat melakukan olahraga ini saat di akhir pekan, pagi hari, sore hari, kawasan

car free day, hingga event lari bergengsi. Berbagai event, tidak hanya menjadi ajang olahraga, melainkan juga sebagai ruang publik yang dapat menggaet kegiatan bersosialisasi dan membangun koneksi pertemanan.

Dari sisi kesehatan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa olahraga lari secara rutin dapat meningkatkan kebugaran jantung dan paru, menjaga berat badan ideal, serta menurunkan risiko penyakit tidak menular. Jurnal American College of Sports Medicine menyebutkan, aktivitas aerobik seperti lari mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, serta meningkatkan kesehatan mental melalui penurunan stres dan kecemasan.

Namun demikian, tren ini juga perlu diimbangi dengan persiapan fisik yang memadai. Penelitian dalam British Journal of Sports Medicine mengungkapkan, kurangnya pemanasan, intensitas latihan berlebihan, serta teknik lari yang salah dapat meningkatkan risiko cedera otot dan sendi, terutama pada pelari pemula.

Oleh karena itu, setiap individu disarankan menyesuaikan intensitas lari dengan kondisi tubuh, melakukan pemanasan dan pendinginan, serta memperhatikan waktu istirahat. Dengan cara tersebut, manfaat olahraga lari dapat dirasakan secara optimal tanpa menimbulkan dampak kesehatan yang merugikan. (Yola)

Rekomendasi Berita