Hipotermia Bisa Sebabkan Sensasi Panas Palsu Mematikan

RRI.CO.ID, Singaraja - Hipotermia tidak hanya menyebabkan tubuh menggigil dan melemah, tetapi juga dapat menimbulkan sensasi panas palsu yang berbahaya. Kondisi ini kembali menjadi sorotan seiring kasus pendaki gunung yang ditemukan meninggal dunia setelah hampir dua pekan pencarian. Sensasi panas palsu kerap membuat penderita justru melepas pakaian di tengah suhu dingin ekstrem, sehingga mempercepat penurunan suhu tubuh. Fenomena ini dikenal dalam dunia medis dan penyelamatan sebagai salah satu fase paling berbahaya dari hipotermia.

Sensasi panas palsu terjadi ketika sistem saraf mengalami gangguan akibat suhu tubuh yang terus menurun. Pembuluh darah yang sebelumnya menyempit untuk mempertahankan panas tubuh tiba-tiba melebar, sehingga penderita merasakan aliran hangat yang semu. Pada tahap ini, penderita bisa merasa tidak lagi kedinginan, bahkan berkeringat dan merasa panas. Padahal, kondisi tersebut menandakan hipotermia sudah memasuki fase lanjut, di mana kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan berpikir jernih mulai terganggu secara serius.

Dalam banyak kasus di alam bebas, sensasi panas palsu menjadi faktor yang memperparah keadaan korban. Pendaki yang mengalami hipotermia sering kali mengambil keputusan tidak rasional, seperti berhenti bergerak, membuka jaket, atau berpisah dari kelompok. Penurunan kesadaran juga membuat korban sulit meminta pertolongan atau menyadari bahaya yang sedang dihadapi. Kombinasi antara suhu lingkungan yang ekstrem, kelelahan, pakaian basah, dan kurangnya asupan energi mempercepat proses ini tanpa disadari.

Fenomena sensasi panas palsu menjadi pengingat penting bahwa hipotermia bukan sekadar rasa dingin biasa. Edukasi mengenai tanda-tanda awal hingga lanjut hipotermia perlu dipahami oleh setiap pendaki dan pencinta alam. Menggigil hebat, bicara pelo, gerakan melambat, hingga perubahan perilaku harus segera direspons dengan tindakan penyelamatan yang tepat. Persiapan matang, perlengkapan yang sesuai, serta keberanian untuk menghentikan pendakian saat kondisi memburuk merupakan langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang. Keselamatan di alam bebas harus selalu menjadi prioritas utama.

Rekomendasi Berita