Rumah Sakit Rawan Penularan, Perilaku Hidup Bersih Hal Utama

RRI.CO.ID, Surabaya - Rumah sakit dikenal sebagai tempat penyembuhan, namun di sisi lain juga menjadi area dengan potensi penularan penyakit yang cukup tinggi. Oleh karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah sakit tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan dan pasien, tetapi juga pengunjung serta keluarga pasien yang datang menjenguk.

Selama ini, masih banyak anggapan bahwa aturan kebersihan di rumah sakit hanya berlaku bagi dokter, perawat, dan pasien. Padahal, mobilitas pengunjung yang cukup tinggi setiap harinya dapat menjadi salah satu jalur penyebaran kuman, bakteri, maupun virus apabila tidak disertai perilaku hidup bersih dan sehat.

Pengurus Cabang IAKMI Kota Surabaya, Abdul Chodir, SKM, MKL, menegaskan bahwa PHBS harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama di lingkungan rumah sakit.

“Rumah sakit itu tempat berkumpulnya berbagai agen penyakit. Kalau pengunjung dan keluarga pasien tidak menerapkan PHBS, maka risiko penularan akan semakin besar, terutama bagi pasien yang daya tahan tubuhnya sedang lemah,” ujar Abdul Chodir, saat berbincang dengan RRI Surabaya dalam program Beranda Astacita Selasa (20/1/2026).

Pria yang juga Sanitarian Ahli Madya RSUD Dr. Soetomo Surabaya menjelaskan perilaku sederhana yang sering dianggap sepele justru memiliki dampak besar dalam pencegahan infeksi. Di antaranya adalah mencuci tangan dengan benar, menggunakan masker saat sakit, serta mematuhi aturan rumah sakit.

“Cuci tangan sebelum dan sesudah menjenguk pasien, memakai masker jika batuk atau pilek, serta tidak duduk di tempat tidur pasien adalah bentuk PHBS yang sangat penting. Ini bukan hanya untuk melindungi pasien, tetapi juga melindungi pengunjung itu sendiri,” ucapnya.

Pasien yang dirawat di rumah sakit umumnya memiliki imunitas yang menurun. Paparan kuman dari lingkungan sekitar, termasuk dari pengunjung, dapat memperburuk kondisi kesehatan atau memicu infeksi baru. Oleh sebab itu, pembatasan jumlah pengunjung dan durasi kunjungan juga menjadi bagian dari upaya PHBS.

Pihak rumah sakit terus berupaya mendorong penerapan PHBS melalui penyediaan fasilitas cuci tangan, hand sanitizer, edukasi kesehatan, serta pengawasan di area pelayanan. Namun, keberhasilan upaya tersebut sangat bergantung pada kesadaran dan kepatuhan semua pihak.

Abdul Chodir menekankan bahwa PHBS di rumah sakit seharusnya menjadi budaya bersama, bukan sekadar aturan formal.

“Kalau semua pihak baik tenaga kesehatan, pasien, dan pengunjung memiliki kesadaran yang sama, maka rumah sakit akan menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman. PHBS adalah kunci utama pencegahan penularan penyakit di fasilitas pelayanan kesehatan,”katanya.

Dengan menerapkan PHBS secara konsisten, rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyembuhan, tetapi juga sebagai lingkungan yang aman bagi semua orang yang berada di dalamnya.

Rekomendasi Berita