Air Minum Dingin dari Kulkas atau AC Mobil?

  • by
  • Editor MUHAMMAD SIRAJUDDIN
  • 19 Jan 2026
  • Surakarta

RI.CO.ID, Surakarta: Air minum dalam botol yang disimpan di kulkas umumnya dianggap lebih aman. Hal itu karena suhu dingin memperlambat pertumbuhan bakteri dan kontaminasi mikroorganisme.

Suhu rendah dari lemari pendingin juga menekan laju migrasi bahan kimia dari plastik ke air. Sehingga kualitasnya tetap stabil lebih lama.

Penelitian menunjukkan bahwa pada suhu dingin, jumlah bakteri yang tumbuh jauh lebih sedikit dibanding suhu tinggi. Sehingga air lebih layak diminum setelah disimpan dalam kulkas.

Sebaliknya, air dalam botol plastik yang dibiarkan panas, seperti di dalam mobil, dapat mengalami peningkatan migrasi bahan kimia dari kemasan plastik ke dalam air tersebut. Suhu tinggi mempercepat pelepasan zat seperti antimon dan bisfenol ke dalam air. Utamanya jika botol terbuat dari PET dan terpapar panas berkepanjangan.

Studi menunjukkan bahwa suhu tinggi (di atas 40–60°C) dapat meningkatkan kadar zat tersebut dalam air secara signifikan. karenanya hal itu memengaruhi kualitas dan keamanan minumannya.

Paparan suhu tinggi di mobil tidak hanya berpengaruh pada bahan kimia plastik. Tetapi juga dapat mempengaruhi rasa dan sensasi air, membuatnya terasa tidak segar atau berubah aroma karena interaksi dengan interior kendaraan.

Selain itu, panas berlebih juga mempercepat pertumbuhan mikroba jika botol sudah dibuka dan terkontaminasi dari mulut atau lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat air yang dibiarkan terlalu lama di mobil bukan pilihan yang ideal untuk konsumsi.

Sementara itu, banyak orang juga mempertanyakan air hasil kondensasi AC mobil sebagai alternatif minuman. Air kondensasi dari AC sebenarnya merupakan hasil pengembunan uap air dari udara, bukan air minum yang diproses dan disaring.

Secara ilmiah, air kondensasi tersebut tidak aman diminum. Sebab berpotensi terkontaminasi partikel debu, kotoran di saluran AC, maupun bakteri dan jamur dari sistem AC yang tidak steril.

Air kondensasi AC juga bukan melalui proses filtrasi air minum yang sesuai standar, sehingga keamanannya sebagai air konsumsi sangat diragukan. Meski terlihat bersih dan bening, air ini dapat mengandung mikroorganisme, spora jamur, dan zat sisa refrigeran bila terjadi kebocoran atau sistem AC tidak bersih.

Oleh karena itu, air kondensasi AC tidak dianjurkan untuk diminum. Bahkan sekali pun dalam keadaan darurat tanpa pengolahan lanjutan terlebih dahulu.

Kesimpulannya, air minum botol yang didinginkan di kulkas lebih aman untuk dikonsumsi dibanding yang dipanaskan atau disimpan di dalam mobil. Penyimpanan dingin memperlambat pertumbuhan bakteri dan menekan migrasi zat kimia dari plastik ke air.

Sementara suhu panas di dalam mobil sebaliknya mempercepat kedua proses tersebut. Selain itu, air kondensasi AC secara ilmiah tidak layak minum karena risiko kontaminasi dan tidak melalui proses sanitasi air minum.

Oleh karena itu, untuk kesehatan jangka panjang, selalu simpan air minum kemasan di tempat sejuk atau kulkas. Hindari meninggalkannya di mobil panas, dan jangan pernah mencoba minum air dari AC mobil tanpa pengolahan.

Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi paparan bahan kimia dan mikroba yang berpotensi membahayakan kesehatan. Konsumen juga direkomendasikan memilih botol dengan label food-grade dan menghindari botol plastik yang sudah terpapar panas lama. (Barista_LPU)

Referensi:

  1. Studi efektivitas suhu rendah dalam menghambat pertumbuhan bakteri pada air kemasan.
  2. Penelitian efek suhu tinggi terhadap pelepasan antimon dan bisfenol dari botol PET.
  3. Kajian kontaminasi air kondensasi AC dan risiko mikrobiologis.
  4. Literatur tentang migrasi zat dari plastik ke air pada suhu tinggi.
  5. Panduan penyimpanan air minum kemasan yang benar (food-grade).

Rekomendasi Berita