Dampak Video Pendek Dan Intentionally Bored

RRI.CO.ID, Talaud - Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan sekitar 4,9 hari dalam seminggu untuk menonton video pendek di media sosial. Angka ini menunjukkan betapa besar porsi waktu yang tersedot oleh konten singkat yang bersifat cepat, menghibur, dan mudah diakses. Sayangnya, di balik kenyamanan tersebut masih banyak orang yang belum menyadari konsekuensi jangka panjang dari kebiasaan ini terhadap kesehatan mental dan kognitif.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi video pendek secara berlebihan dapat berdampak negatif pada fungsi otak. Paparan konten instan yang terus-menerus membuat otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga menurunkan kemampuan fokus dan berpikir mendalam. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat memicu penurunan daya ingat, kesulitan berkonsentrasi, serta melemahnya kemampuan otak dalam memproses informasi yang kompleks.

Dampak lain yang kerap muncul adalah meningkatnya risiko kecanduan. Algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar tanpa henti dan menciptakan pola ketergantungan yang sulit dihentikan. Fenomena yang sering disebut sebagai pembusukan otak ini tidak hanya memengaruhi produktivitas tetapi juga berkaitan dengan kesulitan mengambil keputusan, meningkatnya rasa cemas, dan perasaan gelisah saat tidak memegang gawai.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut muncul sebuah tren yang dikenal dengan istilah “intentionally bored” atau sengaja membiarkan diri merasa bosan. Konsep ini mendorong seseorang untuk secara sadar menjauh dari berbagai distraksi digital terutama media sosial dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Rasa bosan yang muncul justru dianggap sebagai proses alami yang membantu otak memulihkan diri dan kembali ke ritme yang lebih sehat.

Dalam praktiknya intentionally bored dapat diisi dengan berbagai aktivitas sederhana namun bermakna. Membaca buku, melukis, duduk santai sambil mengamati lingkungan sekitar, atau berjalan kaki tanpa ditemani musik dan podcast menjadi contoh kegiatan yang dapat dilakukan. Dengan meluangkan waktu untuk benar-benar hadir di dunia nyata seseorang tidak hanya melatih fokus dan ketenangan tetapi juga membangun kembali hubungan yang lebih seimbang antara teknologi dan kehidupan sehari-hari.


Rekomendasi Berita