UMKM Djeroek Literan Jadi Minuman Sehat Bernilai Ekonomi

RRI.CO.ID, Yogyakarta - UMKM Djeroek Literan hadir sebagai inovasi minuman sehat yang alami, segar, praktis dan bernilai ekonomi bagi pelaku usahanya yang berbisnis dengan tepat dan konsisten. Usaha jeruk literan membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal dengan proses produksi yang sederhana namun bernilai jual tinggi dan dibutuhkan masyarakat.



Produk ini mampu meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.Rizna, pemilik usaha Djeroek Literan, menceritakan awal usahanya ini berangkat dari kegelisahannya melihat lingkungan sekitar yang membutuhkan minuman segar setelah berolahraga yang dibuat dari jeruk berkualitas grade A dan dikemas secara praktis dalam ukuran literan.

Dari kebutuhan tersebut, ia membuka usaha minuman sehat tanpa bahan pengawet selama satu tahun terakhir secara offline dan online. Djeroek Literan mendapat respons positif dari masyarakat Yogyakarta sebagai alternatif minuman penyegar yang sehat dan alami khususnya bagi pelari di berbagai event yang merupakan target utama penjualan produk ini.

"Kami memang fokus di jeruk, karena jeruk itu satu semua orang suka dan rasanya itu jauh lebih enak. Biasanya kalau jeruk itu kan harus diperas dulu, tapi kami udah ready dalam kemasan satu liter dan bisa bertahan tiga sampai lika hari jadi insya Allah sih aman dan biasanya rata-rata beberapa customer gak usah sampai sehari udah habis di beli," ujar Rizna kepada RRI pada Senin, 12 Januari 2026.

Dijelaskan Rizna, dalam sekali produksi rata-rata menghabiskan 50 kilo jeruk untuk mendapatkan hasil 100 liter jeruk segar dengan tiga orang pekerja yang ikut membantu dan beberapa teman freelance.

"Kalau udah event lari tuh satu event lari aja minimal paling enggak antara 300 sampai 500 liter dan langsung habis" kata Rizna.



Selain berjualan di berbagai event lari,Djeroek Literan ini punya langganan tetap yang terbiasa mengorder enam sampai delapan botol per minggu dengan dua yaitu yang reguler pakai gula dan yang sugar free. " Kalau yang regular tuh Rp20 ribu, kalau yang sugar free Rp30 ribu dan kami itu kami ada supplier sendiri di Pasar Beringharjo sama GAMI", ucap Rizna.

Jeruk yang digunakan adalah jeruk grade A untuk mempertahankan rasa yang enak dan segar. Rizna berkeinginan bisa membuka pangsa pasar ke Mandalika dan berbagai tempat lain setelah buka pertama di Bali dengan modal awal sekitar Rp.2 juta dan saat ini omzet pendapatan sehari bisa mencapai Rp. 6 juta.

Di tengah kuatnya tren digital dan tingginya minat pasar online, Djeroek Literan juga mendapat dukungan dari Bahana UMKM Bergerak Bersama Kabupaten Sleman. Melalui jaringan yang dimiliki dan bersama pelaku UMKM lainnya difasilitasi untuk mendistribusikan produk melalui berbagai event yang digelar di Yogyakarta.

"Kami adalah sebuah social planner yang fokus di kegiatan UMKM melakukan pendampingan untuk teman-teman pelaku usaha khususnya UMKM itu fokus di pemasaran. Jadi hasil usaha kami, UMKM itu kan memiliki lima besar kendala yaitu perizinan, kedua terkait dengan produksi,ketiga dari permodalan,keempat ini kami fokus di pemasaran dan kelima adalah growth mindset terkait dengan mental block," ujar Tetra Budiarto Esa MM selalu owner Bahana UMKM Bergerak Kabupaten Sleman.

Disampaikan Tetra, saat ini pihaknya sedang menginisiasi toko oleh-oleh online yang 70% adalah produk dari UMKM dan 30% adalah produk yang dikenal oleh wisatawan. "Yang kami bidik adalah kerjasama dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) Yogyakarta yang mana kami di situ bisa memasarkan produk-produk UMKM dari member kami (4:17) kepada para wisatawan atau tamu-tamu yang menginap di hotel-hotel," kata Tetra.

Rizna dan Tetra berharap produk Djeroek Literan ini tetap eksis dan disukai masyarakat dan akan lebih banyak tempat penjualannya degan tetap mempertahankan kualitas rasa dan harga yang stabil. Sebagai pelaku usaha, Rizna meyakini setiap orang dan usaha punya rezekinya masing - masing. (vemi/rini)



Rekomendasi Berita