Membaca Luka Perempuan dalam "Korpus Uterus"

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Apakah perempuan sudah memiliki hak atas tubuhnya sendiri? Sebuah pertanyaan besar yang menjadi analogi dari Novel Korpus Uterus karya Sasti Gotama, pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, untuk kategori cerpen.

Selain itu, ia juga pernah menerima Anugerah Sabda Budaya kategori sastra pada tahun 2024. Novelnya yang menarik minat dewan juri Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2023, kini terbit dengan judul

Korpus Uterus.Korpus Uterus sendiri secara harfiah merujuk pada istilah medis untuk tubuh rahim perempuan. Namun, Sasti melahirkan Korpus Uterus sebagai simbol luka, kuasa dan harapan perempuan dalam masyarakat Indonesia, yang masih menganut budaya patriarki.

Menurut Sasti, masih banyak perempuan Indonesia yang belum paham atas hak tubuhnya. Salah satunya adalah aborsi yang kini sudah dilegalkan khususnya bagi perempuan korban kekerasan seksual. Saat bertugas sebagai tenaga kesehatan di wilayah yang jauh dari perkotaan, ia mengaku banyak menjumpai kasus yang dialami perempuan yang belum terekspos.

"Ternyata ada hak-hak perempuan yang tidak diketahui di luar sana, salah satunya aborsi. Bahwa ada lho hak aborsi secara legal dan aman, terutama bagi korban kekerasan seksual. Makanya di sini saya ingin menuliskan itu. Dan sebetulnya perempuan itu punya hak atas ketubuhannya, dan banyak perempuan yang belum menyadari atas hak itu," kata Sasti kepada RRI dalam siniar

Pacelathon RRI Yogyakarta, pada Jumat 9 Januari 2026 lalu.

Adalah Luh, tokoh utama dalam novel ini. Seorang laki-laki, anak hasil korban kekerasan seksual. Kalimah nama ibunya. Sebuah ingatan kelam, tentang peristiwa sejarah kekerasan di Indonesia, menghantui Kalimah, sehingga membawanya ke dalam trauma besar.

Dalam perjalanan hidupnya, Luh mewarisi trauma ibunya. Jiwa Luh penuh luka, tapi justru dari luka itulah, muncul empati dan perjuangan. Ia pun menjadi ahli aborsi yang lihai, menyelamatkan perempuan dengan kehamilan yang tidak diinginkan.

Sebuah realitas yang kompleks, tapi perempuan jarang menyadari bahwa ia punya hak penuh atas tubuhnya.

"Pengangkatan rahim saja, perempuan itu harus izin suaminya," kata Sasti Gotama yang juga berprofesi sebagai seorang dokter itu.

Baginya, rahim adalah ruang otonomi tubuh perempuan. Tak ada yang lebih Ibu selain rahim. Begitulah narasi yang ia sampaikan sebagai kekaguman atas rahim perempuan.

Sasti Gotama menggabungkan antara riset medis, fakta sosial dan dituturkan dengan narasi fiksi yang indah. Di penghujung tahun 2025,

Korpus Uterus sudah mencapai cetakan ke empat.

Dirinya juga mengungkapkan, novel ini bukan ditulis untuk menenangkan, tapi untuk membawa kita ke dalam kegelisahan, merenungkan lebih dalam. Apakah perempuan memiliki otonomi atas tubuhnya sendiri?

Rekomendasi Berita