Pakan Hijauan Ternak Bernutrisi Tinggi Inovasi Fapet UGM
- by Mahadevi Pramitha
- Editor Rosihan Anwar
- 20 Jan 2026
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Tantangan dunia peternakan saat ini adalah menemukan pakan hijauan yang produksi tinggi, nutrisi tinggi, dengan harga terjangkau. Hal ini dijawab Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP).
Fapet UGM berkonstribusi dengan menghadirkan pakan ternak dengan beberapa tipe seperti yang dibutuhkan. Antara lain melalui legume Alfalfa Tropik (
Medicago sativa cv Kacang Ratu BW), rumput gajah (Penisetum purpureum cv Gama Umami), dan Cikory (Cichorium intybus).“Chicory saat ini bahkan telah dilakukan uji coba multilokasi dan ditanam di 10 Balai Penelitian Ternak Ungul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) yang tersebar di wilatah Indonesia. Hasilnya menggembirakan dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik, akan menjadi koreksi pakan lokal Indonesia,” kata peneliti dari Lab HMTP Prof. Nafiatul Umami, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 19 Januari 2026.
Nafiatul Umami mengatakan riset yang dikembangkan di Lab HMTP tidak hanya terfokus pada dua jenis tersebut. Laboratorium HMTP memang lebih banyak riset untuk ruminansia, namun tanpa meninggalkan peluang riset untuk unggas.
“Alfalfa Tropik dan Cikory tidak hanya bisa digunakan untuk ruminansi, tetapi juga bisa untuk ternak unggas,” katanya.
Prof. Bambang Suhartanto, menambahkan sistem produksi peternakan di Indonesia dianggap tidak efisien, karena bersifat intentif dengan pakan disediakan. Sementara sistem produksi ternak yang efisien adalah dengan cara digembalakan.
Indonesia memang tidak memiliki kebijakan untuk
dedicated land sebagai lahan penggembalaan seperti Australi. Namun, Indonesia memiliki berbagai jenis lahan yang berpeluang dijadikan area penggembalaan melalui sistem integrasi.“Integrasi sapi sawit (peluang lahan lebih dari 15 juta ha) dan jenis perkebunan lainnya dengan jenis ternak yang tepat, bahkan integrasi dengan ternak lebah. Laboratorium HMTP selain memiliki ahli integrasi ternak besar dengan perkebunan, juga memiliki ahli ternak lebah (
Trigona, Apis mellifera),” ujar Bambang.Tim dari Lab HMTP juga menilai pakan ternak pada sistem produksi ini dapat mengambil porsi 50-70 persen biaya. Sementara jenis pakan hijauan pada umumnya termasuk jenis pakan sumber serat bagi ternak ruminansia dengan harga per unitnya termasuk rendah.
Oleh karena pakan hijauan saja mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, maka pada sistem produksi ternak secara intensifpun akan efisien dalam biaya. Hijauan bernutrisi tinggi itu pada era kekinian popular dengan sebutan
green concentrate (konsentrat hijau).