Tak Hanya Harus Tuntas, Pengobatan TB Butuh Dukungan Keluarga

  • by
  • Editor Rosihan Anwar
  • 20 Jan 2026
  • Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Indonesia merupakan negara kedua terbesar setelah India untuk jumlah kasus tuberkulosis dengan kasus jumlah kematian yang cukup tinggi. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan langkah terobosan atau cara bagaimana pengobatan sampai tuntas agar sembuh.

Indonesia sendiri telah mengadopsi program dari

World Health Organization (WHO) yaitu melalui Strategi Akhiri TB atau End Tuberculosis Strategy hingga tahun 2030 yang akan datang. Meski demikian sangat dibutuhkan peran serta aktif semua masyarakat.

Menurut dr Harik Firman Thahadian, Ph.D, Sp.PD, K-PMK dari RSUP Sarjidto menjelaskan, hampir 80 persen penderita menderita tuberkulosis ekstra paru.

“Jadi memang kuman ini bisa berpindah, Tidak hanya ke organ paru saja. Namun ada yang menyerang di otak, usus, tulang, kulit, mata, payudara, dan lain-lain. Jadi hampir semua organ tubuh itu bisa diserang TB. Mungkin yang tidak bisa diserang hanya kuku dan rambut manusia,” katanya.

Sementara untuk gejala dari tuberkulosis itu paling umum adalah batuk, seperti batuk kronis lebih dari 2 pekan dengan nyeri dada disertai dengan batuk darah dan penurunan berat badan.

Kemudian lemah, lemas, serta bisa disertai dengan penyakit penerta yang lain. Jadi pada pasien immunokompromis seperti pasien diabetes, kemudian HIV, dan penyakit lupus akan rentan terkena tuberkulosis ini.

“Ini adalah gejala yang paling sering atau umum yang terjadi dari tuberculosis,” ujar Harik Firman.

Lebih lanjut Harik menuturkan bagi penderita yang dicurigai TB, dapat melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atau bila perlu cek darahnya, dan ini langsung bisa didiagnosis sebagai tuberculosis dan nantinya jika positif TB akan diberikan obat-obatan yang sesuai terlebih dahulu.

“Sebenarnya yang membedakan antara Tuberkulosis dengan yang non tuberkulosis bisa dilihat dari kecepatan kesembuhannya,” ucap dia.

Masyarakat perlu mengetahui, tuberculosis itu dapat disembuhkan dan untuk pengobatan TB masuk dalam program pemerintah yang benar-benar gratis dalam pengobatannya tanpa dipungut biaya. Jadi biasanya tenaga medis seperti dokter apabila ada seseorang yang dicurigai terinveksi tuberkulosis segera bisa dilakukan pemeriksaan tes DHA namanya.

“Yang paling utama atau

gold standard itu adalah TCM atau tes cepat molekuler,” kata Harik, menambahkan.


Butuh dukungan

Selanjutnya setelah ketahuan apakah pasien positif atau tidak, akan langsung diberikan Obatnya untuk pasien positif TB, untuk mengkonsumsi obat TB secara rutin minumnya setiap hari di waktu atau jam yang sama, dan tidak boleh bolong-bolong waktunya. Sebab pengobatan TB tuntas itu dengan rutin meminum obat TB tanpa putus bisa selama 6-9 bulan pengobatannya.

“Dukungan secara moril dari orang-orang terdekat juga menjadi salah satu faktor cepatnya kesembuhan dari pasien,” ucap Harik.

Ia berujar penderita harus tetap didukung dengan kebersihan lingkungan rumah, dari mulai faktor ventilasi udara yang baik , sinar maupun cahaya yang masuk ke dalam rumah, menjalani pola hidup sehat dengan Makanan yang sehat, bergizi dengan istirahat yang cukup.

Jangan mengabaikan bagi anggota keluarga pasien agar bersedia memeriksakan diri, Apakah terkena TB atau tidak dari salah satu anggota keluarga yang mengidap TB. Bisa dengan cara cek ke laboratorium apakah ada yang mengarah ke TB dari anggota keluarga yang serumah dengan pasien tersebut. Nanti bisa diberikan terapi pencegahan tuberculosis yang cukup singkat waktunya, Hanya sekitar tiga bulan sehingga lebih terproteksi.

“Bagaimana dengan penanganan untuk peralatan makan, minum dan lain-lain dari pasien yang terinfeksi , selama pola hidup sehat bisa dijalankan dengan baik, dengan rajin mencuci tangan dengan air bersih itu sebetulnya aman, masyarakat juga perlu tahu bahwa TB itu berupa KUMAN kalau dibiarkan terkena cahaya matahari yang cukup kuman pasti akan mati,” ujarnya.

Rekomendasi Berita