Sempat Terkendala Biaya, Perjalanan Satria Jadi Wisudawan Terbaik

  • by Juprianto
  • Editor Munzir Permana
  • 17 Jan 2026
  • Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam - Perjalanan akademik Satria, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), berakhir manis di podium kehormatan. Ia resmi dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3.83 dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan ke-6 STIT Hamzah Fansuri (HAFAS) di Aula Hotel Hermes One, Sabtu (17/1/2026).

Namun, prestasi tersebut tidak diraih dengan instan. Di balik toga yang dikenakannya, Satria menyimpan cerita getir perjuangan masa lalu. Pada tahun 2019, ia sebenarnya sempat dinyatakan lulus di Universitas Islam Sumatera Utara (UIN-SU) Medan, namun mimpi itu terpaksa dikubur dalam-dalam karena keterbatasan dana.

Tak ingin menyerah pada keadaan, Satria mencoba peruntungan kembali ke Medan setahun kemudian. Ia bekerja di sebuah perusahaan retail dengan harapan bisa menabung untuk biaya pendidikan, namun lingkungan kerja yang tidak sehat membuatnya memutuskan kembali ke kampung halaman di Subulussalam.

Langkah berani diambilnya pada tahun 2021 dengan mendaftar di STIT HAFAS Kota Subulussalam. Meski sempat menyimpan keraguan terhadap kampus lokal, Satria justru menemukan kebahagiaan dan ekosistem belajar yang sangat mendukung pengembangan dirinya selama masa perkuliahan.

"Dulu awalnya ragu, tapi ternyata kuliah di STIT HAFAS seseru itu. Aku jumpa banyak orang-orang baik di sini. Kalau orang bilang masa paling indah adalah SMA, tapi bagiku masa paling indah adalah masa kuliah," ungkap Satria penuh syukur.

Ketekunan tersebut berbuah manis dengan pemberian penghargaan langsung dari Pemerintah Kota Subulussalam melalui Asisten III Setdako, Rudi Hartono. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kegigihannya menyelesaikan pendidikan di tengah berbagai rintangan hidup.

Dalam pidatonya, Satria sempat menyitir pemikiran tokoh legendaris Tan Malaka untuk mengingatkan rekan sejawatnya. Ia menekankan bahwa gelar sarjana jangan sampai membuat seseorang merasa eksklusif dan menjauh dari kehidupan rakyat kecil di sekitarnya.

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali," tegasnya.

Prosesi wisuda kali ini meluluskan 65 sarjana baru yang terdiri dari 40 wisudawan Prodi PAI dan 25 wisudawan Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Satria membuktikan bahwa kualitas pendidikan bukan ditentukan oleh lokasi, melainkan bagaimana ilmu tersebut memberi dampak bagi masyarakat.

Rekomendasi Berita