Pembuat Rempah Instan di Belu Bertahan Jualan Online

KBRN, Atambua:UMKM Nekmese, usaha pembuatan rempah instan berbahan jahe, kunyit, dan temulawak, telah dirintis sejak tahun 2010. Usaha ini berawal setelah pemiliknya, Laurentina Gelole, mengikuti pelatihan pembuatan rempah instan dan kemudian memilih untuk terus mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Laurentina Gelole kepada RRI Atambua beberapa waktu lalu saat menceritakan perjalanan usahanya. Ia mengatakan, meskipun terdapat berbagai jenis rempah seperti kunyit putih, saat ini produk yang telah memiliki izin PIRT baru tiga jenis, yakni jahe instan, kunyit instan, dan temulawak instan.

“Sebenarnya banyak rempah yang bisa diolah, termasuk kunyit putih, tetapi yang sudah punya PIRT baru tiga produk itu,” ujarnya.

Ia menuturkan, setelah mengikuti pelatihan, ia tidak berhenti hanya pada tahap produksi untuk konsumsi sendiri. Ia terus memproduksi rempah instan untuk dijual kepada masyarakat. Selama ini, pemasaran produk dilakukan secara online, serta diproduksi secara khusus ketika ada kegiatan pameran.

Ia mengatakan bahwa sistem produksi yang diterapkan menyesuaikan dengan pesanan atau momentum pameran, sehingga produk tidak disimpan terlalu lama meskipun masa kedaluwarsanya dapat mencapai enam bulan.

“Saya buat produk kalau ada pesanan atau pameran saja, supaya tidak tersimpan lama,” katanya.

Pemilihan tiga produk utama tersebut, menurutnya, didasarkan pada tingginya permintaan masyarakat serta ketersediaan bahan baku yang relatif mudah. Untuk bahan baku jahe dan kunyit, ia memperolehnya dari pasar, sementara temulawak diambil langsung dari kebun miliknya sendiri.

Dalam proses produksi, ia mengungkapkan bahwa pembuatan satu jenis produk dapat diselesaikan dalam waktu singkat, bahkan tidak sampai satu hari. Dalam satu hari, ia mampu menghasilkan sekitar dua kilogram untuk satu jenis produk.

Ke depan, ia berencana menambah varian produk rempah instan lainnya guna menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.

Ia juga berpesan kepada para ibu-ibu yang ingin memulai usaha agar tidak mudah berputus asa. Menurutnya, keberanian untuk memulai adalah langkah terpenting dalam berwirausaha. “Yang penting berani dulu untuk mulai. Soal laku atau tidak, itu urusan kedua,” ucapnya.

Selain itu, ia berharap pemerintah daerah Kabupaten Belu dapat menyediakan satu tempat khusus yang strategis sebagai pusat penitipan dan penjualan produk UMKM lokal agar lebih mudah diakses oleh pembeli.

Rekomendasi Berita