Tips Hindari Kemiskinan 2026 dari Yuda & Olivia

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Raditya Dika baru-baru ini mengundang dua

finfluencer (influencer keuangan), Yuda Keling dan Olivia Luis, untuk membahas langkah konkrit menghindari kemiskinan di tahun 2026. Diskusi ini diinspirasi oleh kisah nyata keduanya yang berhasil memperbaiki kondisi keuangan melalui pengelolaan uang yang lebih baik.

Yuda dan Olivia, yang telah berteman lama dengan Raditya, kini aktif di lingkaran influencer keuangan. Sejak 2021, mereka mendirikan yayasan "Gerakan Memutus Rantai" yang fokus pada edukasi keuangan bagi guru dan ibu-ibu PKK di kota-kota tier 2 dan 3 di Indonesia, sebagai respons maraknya kasus pinjol ilegal.

Yuda Keling mendefinisikan masa lalunya yang miskin sebagai kondisi di mana untuk memenuhi kebutuhan hidup saja harus berutang. Perubahan dimulai ketika ia bergabung dengan

circle finfluencer dan terdorong untuk terus belajar. "Gua membawahi 11 influencer yang lain walaupun kayaknya gua kayak punya 11 majikan sekarang," candanya tentang posisinya sebagai ketua yayasan.

Sementara itu, Olivia Luis mulai serius mempelajari personal finance pada 2018 saat hamil anak kedua. Kekhawatirannya akan masa depan anak, yang berakar dari pengalaman putus sekolah di masa kecil, mendorongnya belajar investasi. Pandemi 2020 menjadi momen ia mulai aktif berbagi edukasi keuangan.

Keduanya memberikan tips inti:

catat semua pengeluaran harian minimal selama 3-6 bulan untuk mengenali pola boros yang tidak disadari. Yuda mengaku pengeluarannya di 2020 pernah mencapai Rp7-8 juta per bulan, didominasi kebiasaan nongkrong di kafe.

Setelah itu, terapkan

sistem budgeting yang disiplin. Beberapa metode yang bisa dicontoh:

- Pisah ATM: Memisahkan rekening untuk "uang masuk" dan "uang jajan".

- Sistem Amplop: Mengalokasikan uang tunai per pos pengeluaran.

- Pocket Bank Digital: Membuat akun digital terpisah untuk anggaran mingguan.

- Manfaatkan Laporan Kartu Kredit: Untuk mencatat pengeluaran secara otomatis.

Kunci menghadapi fase awal adalah menerima fakta pengeluaran besar sebagai bahan evaluasi, alih-alih menghindarinya. "

Stresnya itu wajar dihadapi karena kita baru tahu kalau ternyata kita boros," tutup Yuda. Langkah selanjutnya adalah berkomitmen mengurangi kebocoran dan meningkatkan pendapatan untuk dialokasikan ke investasi.

Rekomendasi Berita