Deteksi Dini Kusta Masih Rendah di Lampung
- by
- Editor Niken Wulandari
- 17 Jan 2026
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pandangan terhadap kusta masih kuat di tengah masyarakat. Sebagian warga menyebut kusta sebagai penyakit masa lalu atau penyakit kutukan, sehingga penderita sering menyembunyikan kondisi dan terlambat mencari pertolongan medis.
Wakil Ketua Dewan Etik Perdoski Cabang Bandarlampung, dr Arif Efendi, menyebut kondisi itu menjadi tantangan besar dalam upaya eliminasi kusta. Edukasi berkelanjutan diperlukan agar masyarakat memahami kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan tepat.
“Kusta bisa diobati, asalkan pasien tidak terlambat melakukan deteksi dini,” ujar dr Arif Efendi kepada RRI Jumat, 16 Januari 2026.
Ia menjelaskan gejala kusta kerap disalahartikan sebagai penyakit kulit biasa. Ruam yang tidak kunjung sembuh, disertai berkurangnya rasa pada kulit, menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai.
Dr. Arif menambahkan banyak pasien mengira ruam sebagai eksim atau panu sehingga menggunakan obat tidak sesuai. Hal ini menyebabkan kondisi tidak membaik dan penanganan menjadi terlambat.
“Jika ruam disertai mati rasa atau kesemutan, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ucapnya menambahkan.
Peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk menghapus stigma dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Pemeriksaan dini dan pengobatan teratur dinilai mampu mencegah kecacatan serta memutus rantai penularan kusta.