Kafani, UMKM Bandung Ubah Tabu Jadi Dakwah

RRI.co.id, Bandung - Kafani, UMKM asal Bandung berhasil mencuri perhatian publik nasional dengan produk kain kafan yang dikemas modern dan edukatif. Brand yang lahir pada Maret 2024 ini kini dikenal se-Indonesia, berkat strategi dakwah melalui bisnis yang digagas oleh Yoka Brahma Putra bersama tiga rekannya.

Menurut Yoka, Kafani hadir dari keresahan bahwa mayoritas masyarakat muslim belum memahami tata cara pengurusan jenazah secara benar. “Kami berbisnis untuk berdakwah. Lewat Kafani, kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa mengurus jenazah adalah ibadah besar, bukan sesuatu yang menakutkan,” ujarnya saat ditemui RRI Bandung. Kamis, 8 Januari 2026.

Kafani memposisikan diri sebagai brand pertama yang serius menggarap pasar kain kafan dengan pendekatan profesional. Produk dikemas dalam warna hijau dan putih agar lebih menenangkan, dengan paket harga mulai Rp340 ribu hingga Rp790 ribu. Target utama adalah perempuan usia 24–35 tahun, yang dianggap paling aktif dalam keputusan belanja keluarga.

Selain menjual produk, Kafani aktif menggelar pelatihan pengurusan jenazah di masjid dan komunitas sejak sebelum viral. “Kami sadar, edukasi adalah kunci. Banyak orang tidak tahu cara mengurus jenazah, bahkan keluarga terdekat sekalipun. Di situ letak dakwah kami,” jelas Yoka.


Baca juga:

Penerima Bansos di Kota Bandung Menurun Pada 2025


Fenomena Kafani semakin mencuat ketika siaran langsung di TikTok pada Oktober 2024 mendadak viral. Dengan konsep edutainment, Yoka menggabungkan edukasi dan hiburan sehingga menarik ribuan penonton. “Awalnya hanya gimik dengan manekin (pocong-pocongan*Red), lalu kami tampilkan orang sungguhan. Ternyata antusiasme luar biasa. Dari situ Kafani dikenal luas,” tambahnya.

Kini, Kafani tidak hanya hadir di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, tetapi juga aktif di Instagram dan TikTok sebagai kanal utama dakwah sekaligus pemasaran. “Kami ingin masyarakat melihat kain kafan bukan sekadar kebutuhan akhir, tetapi bagian dari persiapan ibadah. Lewat Kafani, kami ingin mengubah stigma kematian menjadi momentum dakwah,” tutup Yoka.


Rekomendasi Berita