Rutan Pandeglang Berdayakan Warga Binaan Melalui Pengembangan UMKM
- by Dendy Fachreinsyah
- Editor Nasrudin Jahari
- 11 Jan 2026
- Banten
KBRN, Pandeglang: Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pandeglang mengoptimalkan program pemberdayaan warga binaan perempuan melalui pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai langkah konkret dalam mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas). Saat ini, sebanyak 10 warga binaan perempuan dilibatkan aktif dalam produksi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomi guna membekali mereka dengan keterampilan produktif pasca-menjalani masa pidana.
Kepala Rutan Kelas IIB Pandeglang, Achmad Zaki menjelaskan, program ini berfokus pada pembuatan berbagai macam aksesoris seperti gelang manik-manik, gantungan kunci, hingga kerajinan rajut berupa peci, topi bayi, dan tas. Menurutnya kegiatan ini selaras dengan arahan Kemenimipas terkait pemberdayaan UMKM di lingkungan pemasyarakatan.
Baca juga:
Penghuni Rutan Pandeglang Lebihi KapasitasMelalui program ini, warga binaan tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga premi atau upah sebagai hasil dari produktivitas mereka yang dapat dijadikan tabungan keluarga maupun bekal saat bebas nanti.
"Harapan kami produk ini dapat diterima masyarakat luas. Dukungan dan antusiasme pembeli menjadi motivasi bagi warga binaan bahwa mereka tetap berguna dan bisa menghasilkan premi untuk dibawa pulang ke keluarga saat masa pidana selesai," Minggu (11/1/2026).
Di sisi teknis, Kepala Satuan Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR), Iis Yutapiah menceritakan, pembinaan yang dilakukan kepada warga binaan ini dilakukan secara terjadwal setiap hari Jumat, melengkapi agenda rutin lainnya seperti olahraga, pengajian, dan kesenian degung. Selain kerajinan tangan, warga binaan perempuan juga memproduksi komoditas pangan lokal berupa camilan opak dan emping khas Pandeglang.
Baca juga:
Rutan Pandeglang Tekan Risiko Peredaran Narkoba"Produk-produk ini telah mulai dipasarkan secara internal melalui koperasi bagi pengunjung maupun pegawai Rutan," ucap dia.
Walaupun demikian, menurutnya produk yang dihasilkan masih menghadapi tantangan dalam perluasan jangkauan pasar. Sejauh ini, target pemasaran masih didominasi oleh keluarga warga binaan dan pesanan terbatas dari instansi luar yang melakukan sistem
pre-order (PO) untuk keseragaman. Pihak Rutan mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah maupun sektor swasta agar produk hasil karya warga binaan dapat menembus pasar UMKM di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional."Kami masih mencari celah pemasaran melalui UMKM di luar, baik tingkat kabupaten maupun nasional," ucap Iis.
Baca juga:
Ciptakan Lingkungan Ramah Disabilitas, Rutan Tambah Guiding BlockIa berharap, ke depan sinergi antara masyarakat luas dan lembaga pemasyarakatan dapat terus ditingkatkan guna memberikan motivasi bagi warga binaan. Iis menilai partisipasi masyarakat dalam membeli produk karya warga binaan dinilai sangat krusial sebagai bentuk dukungan nyata terhadap proses reintegrasi sosial, agar stigma negatif terhadap mantan narapidana dapat terkikis melalui bukti nyata karya dan kemandirian ekonomi yang mereka tunjukkan.
Sementara seorang warga binaan Mawar (nama samaran) mengaku, mendapatkan kebanggaan tersendiri atas keterampilan merajut yang didapatkannya selama satu tahun di dalam Rutan. Sebelumnya, ia tidak memiliki kemampuan dasar menganyam, namun kini ia telah mampu memproduksi tas, dompet, hingga peci secara mandiri.
"Nanti kalau sudah bebas, saya ingin melanjutkan usaha ini. Saya akan tunjukkan hasil karya saya ke teman-teman, kalau mereka tertarik bisa pesan sesuai model dan ukuran yang mereka mau," ujarnya.
Mawar mengaku keterampilan baru ini menumbuhkan rasa percaya diri serta motivasi kuat untuk membangun usaha mandiri saat kembali ke masyarakat nanti. Pemberian bekal keterampilan ini sangat membantunya karena dirasa akan bermanfaat langsung sebagai bekal modal kepulangannya selepas tidak lagi menjadi warga binaan. (Ridwan Maulana)